BPJS Kesehatan Jadi Penopang Harapan, Kadek Bunga Tak Gentar Melawan Lupus

Kadek Bunga Berliana, gadis muda asal Desa Siakin, Kintamani, Bangli yang tegar di tengah deraan penyakit SLE - (Foto: Dok LenteraEsai)

Bangli, LenteraEsai.id – Pada sebuah dusun sunyi di balik perbukitan Desa Siakin, Kintamani, Bangli, seorang gadis kecil bernama Kadek Bunga Berliana (15) sedang bertarung melawan penyakit yang diam-diam menggerogoti tubuhnya, yakni Systemic Lupus Erythematosus (SLE), penyakit autoimun kronis yang belum ada obat pastinya. Dikarenakan gejalanya sangat beragam dan bisa menyerupai penyakit lain, SLE kerap disebut sebagai ‘penyakit seribu wajah’.

Beberapa tahun terakhir, Kadek Bunga menjalani hidup dalam keadaan yang serba keterbatasan. Sakitnya kadang datang tanpa terduga. Misalnya,kadang tubuhnya menggigil, sendi-sendi nyeri, dan napas terasa berat. Sejak kelas 6 SD, Kadek Bunga terpaksa berhenti sekolah karena kondisi tubuh yang tak lagi sanggup mengikuti aktivitas seperti anak-anak seusianya.

Bacaan Lainnya

Di tengah ketidakpastian dan kekhawatiran soal biaya berobat, BPJS Kesehatan hadir menjadi satu-satunya harapan keluarga kecil ini. Melalui program JKN-KIS, seluruh proses pengobatan Bunga di RSUP Sanglah Denpasar bisa berjalan tanpa mereka harus memikirkan biaya perawatan yang sangat mahal.

“Kalau bukan karena BPJS Kesehatan, entah bagaimana nasib anak saya sekarang,” ucap Made Kumpul (45) yang tidak lain merupakan ayah Kadek Bunga, dengan mata berkaca-kaca menahan tangis sedih. “Kami ini hanya rakyat biasa. Saya dan istri bekerja sebagai petani di kebun. Jadi hanya BPJS Kesehatan yang menolong kami agar Kadek Bunga tetap bisa menjalani pengobatan. Itulah satu-satunya pegangan kami,” katanya.

Setiap 12 hingga 14 hari sekali, keluarga ini harus membawa Kadek Bunga menempuh perjalanan lebih dari 70 km menuju RSUP Prof Ngoerah di Sanglah, Denpasar. Tapi jalan menuju rumah sakit tidak mudah. Desa Siakin belum memiliki akses transportasi medis yang memadai. Tidak ada ambulans desa. Tak ada kendaraan kesehatan yang bisa menjemput. Mereka hanya bergantung pada motor atau pinjaman mobil tetangga, itupun jika ada yang berkenan memberikan pinjaman.

Saat kondisi Kadek Bunga mendadak menurun, perjalanan malam pun terpaksa ditempuh. Dalam tubuh lemah, Kadek Bunga tetap memaksakan diri untuk duduk atau berbaring di kendaraan seadanya. Meski BPJS Kesehatan menanggung pengobatan, biaya bensin, makan, hingga tempat tinggal sementara di Denpasar tetap harus mereka cari sendiri.

Made Kumpul kini tak lagi bisa bekerja penuh waktu. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk menemani dan merawat Kadek Bunga. Sementara istrinya mengurus rumah seadanya. Penghasilan nyaris tak menentu, tapi kebutuhan justru terus datang, terutama saat jadwal pengobatan tiba.

“Kadang saya harus pinjam uang ke sana sini, hanya untuk beli bensin dan makan selama di rumah sakit,” tuturnya pelan. “Tapi selama BPJS Kesehatan masih bisa bantu obatin anak saya, saya akan terus berjuang,” tegasnya.

Keluarga ini tidak menuntut banyak. Mereka tidak meminta uang besar atau bantuan mewah. Mereka hanya ingin satu hal: agar Kadek Bunga tetap bisa bertahan, tetap bisa berobat, dan memiliki masa depan seperti anak-anak lain. (Tri Vivi Suryani)

 

Pos terkait