Denpasar, LenteraEsai.id – Bagi sebagian orang, pencarian makna hidup ditempuh dengan perjalanan ke tempat suci atau menyendiri di gunung. Namun, bagi I Wayan Mustika, seorang dokter asal Bali, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan terdalam tentang kehidupan justru ditemukan melalui dunia pendidikan dan tulisan-tulisannya.
Wayan Mustika dikenal sebagai dokter yang juga produktif menulis buku bertema spiritualitas dan makna hidup. Sejauh ini, ia telah menerbitkan 11 buku dan masih terus menulis di sela-sela kesibukannya sebagai tenaga medis.
“Sekolah kedokteran bukan hanya membuat saya memahami tubuh manusia, tetapi juga membuka jalan untuk mengenal diri sejati,” ujar Wayan Mustika dilansir dari Channel YouTube Ngaji Roso.
Menjadi dokter bukan cita-cita awalnya. Ia semula bercita-cita menjadi insinyur. Namun, pengalaman pribadi mengantarkan saudaranya berobat mengubah jalan hidupnya.
“Saat itu kami harus membayar Rp50 ribu untuk biaya berobat, padahal dokternya masih saudara. Di situ saya berpikir, kenapa tidak saya sendiri saja yang jadi dokter agar bisa membantu orang lain tanpa memikirkan biaya,” kenangnya.
Tekad itu membawanya masuk ke Fakultas Kedokteran. Namun, pelajaran di bangku kuliah tak hanya memperkaya pengetahuannya soal tubuh manusia, tapi juga menyalakan kembali berbagai pertanyaan mendasar yang telah lama menghantuinya: apa tujuan hidup? Siapa Tuhan yang disembah manusia?
Tahun 2001 menjadi titik balik dalam hidupnya. Saat tengah merenungi pertanyaan-pertanyaan spiritual, tiba-tiba jari-jarinya mengetikkan kalimat demi kalimat yang tak pernah ia rancang sebelumnya. Ia menyebutnya sebagai pengalaman automatic writing.
“Saya tulis semua pertanyaan, supaya bisa saya tanyakan ke guru. Tapi tiba-tiba saja, aliran jawaban mengalir deras tanpa saya tahu dari mana datangnya,” tuturnya. Dari pengalaman inilah lahir buku pertamanya: Dialog Spiritual 1.
Sejak itu, menulis menjadi bentuk ekspresi sekaligus pengabdian. Ia menuangkan pemikiran tentang Tuhan, kehidupan, dan makna eksistensi manusia dalam berbagai buku seperti Pesan Dari Langit, Tuhan Segala Agama, Saat Semesta Bicara, hingga Grahasta Asrama—sebuah buku spiritual untuk pasangan muda yang baru menikah.
Antara Stetoskop dan Pena
Menjalani profesi sebagai dokter sekaligus menulis buku bukan hal mudah. Namun, Wayan menganggap kedua peran itu saling melengkapi. Setiap pertanyaan kritis dalam dirinya adalah benih yang tumbuh menjadi tulisan. Bahkan, inspirasi sering datang dari aktivitas sehari-hari seperti menyapu halaman atau berjalan di pantai.
“Banyak hal yang tiba-tiba saja mengalir, dan saya harus langsung mencatatnya agar tidak hilang. Menulis bagi saya bukan sekadar kegiatan, tapi proses menyatu dengan semesta. Tidak beda halnya dengan meditasi,” ujarnya.
Berbeda dari praktik meditasi konvensional, Wayan memilih aktivitas sehari-hari sebagai jalan untuk masuk ke dalam kesadaran meditatif. Baginya, menyapu, mendengar debur ombak, atau mengamati pepohonan bisa menjadi sarana menyatu dengan ketenangan batin.
“Meditasi saya bukan selalu duduk diam. Kadang cukup dengan hadir sepenuhnya dalam aktivitas sederhana. Dari sana, inspirasi mengalir,” jelasnya.
Mewariskan Pengetahuan Lewat Tulisan
Semua karya Wayan Mustika lahir dari dorongan untuk memahami kehidupan lebih dalam. Ia ingin membagikan apa yang ia temukan kepada orang lain, agar pencarian mereka tak berakhir di jalan buntu.
“Hidup itu perjalanan spiritual. Saya ingin orang-orang tidak hanya mengejar apa yang bersifat materi, tapi juga memahami apa yang membawa manfaat bagi ruh,” tegasnya.
Ia juga ingin menjembatani pemahaman tentang Ketuhanan dari masa lampau dengan cara berpikir modern. Lewat tulisan, ia berupaya menerjemahkan warisan leluhur dalam bahasa yang lebih relevan dengan zaman.
“Alam semesta dan para leluhur saya sangat membantu. Mereka seolah membisikkan banyak jawaban kepada saya. Saya hanya perantara,” ucapnya merendah.
Kisah Wayan Mustika menyentuh sisi terdalam dari kehidupan manusia. Ia bukan sekadar dokter atau penulis, tapi seorang pencari yang menuliskan setiap temuannya agar tak hilang ditelan waktu. Lewat pengalaman pribadinya, ia mengajak kita semua merenung: sudahkah kita memahami tujuan hidup kita sendiri?
Buku-buku karya Dokter Wayan Mustika:
Dialog Spiritual (1)
Dialog Spiritual (2)
Dunia Tanpa Suara
Kanda Pat
Saat Semesta Bicara
Grahasta Asrama (Jalan Cinta Berjumpa Tuhan)
Tuhan Segala Agama
Pesan Langit dan Bumi (1)
Pesan Langit dan Bumi (2)
Berguru Pada Langit dan Bumi (1)
Berguru Pada Langit dan Bumi (2)
Rahasiamu RahasiaKu. (LE-Vivi)







