Tabanan, LenteraEsai.id – Ruang udara pagi dipenuhi keharuman bubuk kakao (Theobroma cacao L), saat memasuki kawasan Dusun Cau, Desa Tua, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali. Hari berbalut mendung, namun bau harum biji kakao olahan tetap menguar kuat, dari kompleks Cau Chocolates.
Di sisi lain, nampak sejumlah pekerja yang sudah berpeluh keringat. Sebagian sibuk mengemas produk coklat batangan, dan ada pula yang memanggul cangkul di pundak, untuk menggemburkan tanah di perkebunan milik Cau Chocolates.
Cau Chocolates adalah sebuah pabrik pengolahan biji kakao, yang sudah berdiri sejak 2015 silam. Awalnya, hanyalah sebuah pabrik sederhana. Meski demikian, Cau Chocalates telah bermetamorfosa menjadi rumah yang kokoh sebagai tempat bersandar bagi ratusan petani kakao, yang semula harapannya nyaris pudar. Semula mereka tengah berpikir panjang, apakah mereka masih sanggup meneruskan langkah untuk melanjutkan profesi sebagai petani kakao, akibat berbagai kendala yang dihadapi. Di tengah kesimpangsiuran pikiran antara tetap meneruskan pekerjaan bertani kakao atau mengalihkan profesi ke jalur pariwisata inilah, Cau Chocolates kemudian hadir dan memberikan spirit untuk tetap mempertahankan jati diri sebagai petani kakao organik.

Terdorong dengan rasa penasaran dengan kiprah Cau Chocolates dalam merangkul petani kakao untuk tumbuh bersama, maka menjelang akhir Mei 2025, saya memutuskan menyambangi pabrik cokelat yang berada kawasan sejuk Marga.
Udara dingin terasa menyerusuk kulit. Saya kemudian disambut hangat Kadek Surya Prasetya Wiguna (37) selaku CEO dari PT Cau Chocolates Bali, yang langsung mengajak saya meninjau ke hamparan perkebunan kakao, yang letaknya berseberangan dengan lokasi pabrik cokelat. Sembari melangkah di antara tanah basah perkebunan inilah, cerita tentang sejarah berdirinya usaha yang dikenal dengan sebutan ‘Cau Chocolates’ kemudian bergulir.
“Pada mulanya, ayah saya I Wayan Alit Artha Wiguna yang selama 30 tahun mengurusi petani selaku seorang penyuluh pertanian, merasakan dan melihat langsung kegetiran dan curahan hati dari kebanyakan petani yang dibimbingnya. Mereka hidup pas-pasan, harga panen sering anjlok, pembayaran dari tengkulak jarang tepat waktu dan sulit mendistribusikan hasil panen. Mendengar curahan kepedihan para petani ini, akhirnya ayah mencetuskan keinginan untuk memiliki usaha yang bisa mengangkat harkat kehidupan petani. Pada tahun 2015 ayah mendirikan usaha pabrik pengolahan kakao di tanah kelahiran kami, Desa Tua. Mengapa memilih usaha kakao, ya karena produk inilah yang berpotensi besar untuk dikembangkan hingga mancanegara. Kan selama ini kebutuhan kakao di Indonesia dan dunia, terbilang selalu meningkat dari tahun ke tahun. Jadi ini adalah pasar besar yang mesti digarap serius. Perjalanan yang telah dimulai sejak sembilan tahun lalu ini mengusung brand Cau Chocolates,” ujar Kadek Surya dengan antusias, sembari membelokkan langkah menyusuri tanah lembap perkebunan.
Dua tahun berselang sejak masa pendirian Cau Chocolates, tepatnya pada tahun 2019, Kadek Surya memutuskan untuk resign dari pekerjaan sebagai karyawan sebuah bank pemerintah, supaya bisa ikut terjun langsung dan fokus menangani usaha cokelat yang sudah dirintis ayahnya. Bagi Kadek Surya, kakao Indonesia memiliki potensi besar untuk digarap maksimal. Tahun 2022, Indonesia bahkan masuk tiga besar dunia sebagai produsen kakao berkualitas.
Menurut Kadek Surya, Cau Chocolates sejak awal memegang teguh untuk menggunakan biji kakao fermentasi organik sebagai bahan baku pembuatan cokelat batang, butter, nibs (pecahan cokelat kecil) dan powder. Keempat produk ini dipasarkan secara offline ke berbagai hotel dan toko oleh-oleh di Bali. Penjualan produk ini berjalan baik, sehingga lama-lama kebutuhan bahan baku cokelat pun makin bertambah. Ketika baru didirikan pada tahun 2015, rata-rata Cau Chocolates mengolah biji kakao sebanyak 40 kilogram (kg) per hari. Seiring tingginya permintaan pasar, maka kini melonjak antara 800-1.000 kilogram setiap harinya.

Cau Chocolates memiliki lahan seluas 1,5 hektare dengan hasil panen 2-3 ton per tahun. Seiring meningkatnya nama Cau Chocolates di kalangan perhotelan dan toko oleh-oleh, secara tidak terbendung maka permintaan produk pun makin merangkak naik. Melihat antusiasme pasar, Kadek Surya kemudian tercetus keinginan untuk merangkul petani-petani di luar Tabanan, sehingga kemudian melirik petani kakao di wilayah Kabupaten Jembrana untuk diajak berkembang bersama.
Saat ini, lanjut Kadek Surya, sudah ada 600 petani yang diajak bekerja sama dan sebanyak 200 petani telah tersertifikasi organik. Para petani ini berasal dari wilayah Tabanan dan Jembrana ini, yang tergabung dengan koperasi di daerah masing-masing. Selanjutnya koperasi inilah yang menghimpun hasil panen petani, untuk dikirimkan ke Cau Chocolates.
Ketika Cau Chocolates baru didirikan, harga biji kakao berkisar Rp 20 ribu per kilogram. Sekarang, seiring makin tingginya permintaan dari konsumen pariwisata, membuat harga biji kakao terdongkrak naik. Kini harga biji kakao fermentasi organik telah naik beberapa kali lipat menjadi Rp 180 ribu per kilogram.
Kadek Surya mensyukuri, naiknya harga biji kakao ini membawa dampak baik bagi kesejahteraan petani, sehingga kerisauan tentang harga panen anjlok atau sulitnya mendistribusikan hasil panen, tidak terdengar lagi. Tidak ada keluhan petani kakao yang berkumandang pilu, seperti tahun-tahun silam.
Dahulu, lanjut Kadek Surya, dikarenakan panjangnya rantai distribusi jual-beli produk pertanian, sehingga rata-rata petani hanya menerima maksimal 70% dari harga standar kakao. Sekarang dengan keberadaan koperasi yang bekerja sama dengan Cau Chocolates, sehingga petani bisa menerima di kisaran 90% dari harga standar kakao.
Invansi di Marketplace
Terdorong keinginan memperluas pasar, Cau Chocolates kemudian mencoba mengembangkan pemasaran platform digital berbasis marketplace. Sejak Januari 2025, sistem penjualan melalui marketplace Shopee mulai dilakukan secara serius dengan merekrut anak-anak muda setempat, sehingga bisa menerapkan digital marketing. Antara lain, dengan melakukan siaran live untuk memasarkan produk Cau Chocolates ke konsumen.
“Pada bulan Januari 2025, omzet penjualan lewat marketplace mencapai angka Rp 20 juta. Harga cokelat yang ditawarkan mulai dari Rp 5.000 sampai Rp 1 juta. Februari sudah naik menjadi Rp 40 juta. Kemudian bulan Maret 2025, kembali naik menjadi Rp 100 juta. Ini adalah hasil dari penjualan marketplace saja. Saya sempat tercengang dan tidak menduga, kalau hasil dari penjualan digital bisa dahsyat seperti itu, sehingga sekarang makin serius menggodok sistem pemasaran digital yang kreatif. Dan kami fokus untuk berjualan lewat marketplace Shopee saja. Sejak menerapkan penjualan marketplace, konsumen telah meluas dari berbagai daerah di Indonesia. Ini tentu kebanggaan sekaligus tantangan bagi Cau Chocolates supaya tetap bisa kontinyu berproduksi menggunakan bahan biji kakao terbaik. Kini kami tengah merancang pembuatan pabrik yang kedua, sehingga kapasitas produksi bisa lebih ditingkatkan,” ujar Kadek Surya.

Sembari menyibakkan daun-daun kakao yang hijau subur, Kadek Surya kemudian menjelaskan bahwa dahulu kala, cokelat dipercayai sebagai makanan dewa. Kepercayaan ini dipegang teguh Suku Maya, sehingga menganggap kakao sebagai pohon suci. Ketika ada salah seorang tokoh yang meninggal dunia, maka anggota Suku Maya akan menguburkannya bersama mangkok cokelat bersama sejumlah benda berharga lain, sebagai bekal di alam selanjutnya.
“Dari sinilah, maka kita mendapatkan pengetahuan bahwa cokelat sesungguhnya merupakan makanan istimewa. Dan Cau Chocolates membuktikan bahwa dengan mengolah biji kakao menjadi produk makanan, akhirnya mampu menghapus air mata kesedihan ratusan petani di Tabanan dan Jembrana. Kami juga membuktikan bahwa pasar untuk cokelat memang terbuka lebar untuk produk yang berkualitas. Bahkan sekarang dengan menggunakan kekuatan dunia digital, menjadi gerbang ampuh bahwa sebenarnya usaha produk cokelat itu memiliki peluang yang menggiurkan. Dan tentu saja, kami tetap berpegang pada bahan baku biji kakao fermentasi organik sebagai persembahan untuk masyarakat Indonesia dan dunia,” ujar Kadek Surya dengan penuh kesungguhan.
Setiba di ujung perkebunan, sejumlah pekerja terlihat sedang melakukan beraktivitas merunduk-runduk di antara tanaman kakao yang sedang berbuah lebat. Salah satunya bernama Nyoman Arjana yang tengah merabas beberapa daun kakao agar tidak terlalu rapat dan saling menutupi satu sama lain.
Menurut Arjana, tanaman kakao yang ditanam adalah jenis MCC02 dan S2 dari Sulawesi. Kedua jenis ini memiliki keunggulan tahan hama dan penyakit. Pada usia 2,5 tahun, tanaman sudah mulai berbuah dan bisa bertahan produktif sampai usia 30 tahun.
“Untuk pemupukan, di sini menggunakan pupuk alami yang terbuat dari daun jati. Kalau pemangkasan dan penyemprotan menggunakn pestisida nabati dilakukan setiap dua minggu sekali,” katanya.
Melalui sikap konsisten dalam mengaplikasikan pupuk alami dalam siklus pertanian organik inilah, maka Cau Chocolates menjadi satu-satunya cokelat Indonesia yang telah meraih organik sertifikat dari badan terakreditasi milik pemerintah Indonesia, Eropa (EU) dan Amerika (USDA).
Digitalisasi UMKM
Pada momen kegiatan ‘Mastercard Forum 2025: Driving Tommorow Innovation In Action di Sanur Bali’ pada akhir April lalu, Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian Usaha Mikro Kecil dan Menengah Bagus Rachman menyatakan bahwa digitalisasi UMKM adalah hal yang tidak terelakkan dan suatu keniscayaan di era sekarang. Pelaku atau pengusaha UMKM wajib menerapkan transformasi digital pada usahanya masing-masing, jika menginginkan percepatan dalam pengembangan usaha.
“Dengan menerapkan digitalisasi digital, maka jangkauan pasar UMKM makin meluas. Selain itu, efisiensi operasional kian meningkat dan tentu saja memperkuat daya saing UMKM tersebut di tengah derasnya ekonomi digital,” ujar Bagus Rachman.
Di Indonesia, UMKM merupakan salah satu tulang punggung ekonomi nasional. UMKM diharapkan dapat mengambil peran untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen pada tahun 2025 ini. Dengan demikian, digitalisasi UMKM bukanlah sekedar proses praktik sebuah usaha dengan menerapkan teknologi semata. Lebih dari itu, digitalisasi UMKM digadang-gadang mampu melipatgandakan efisiensi serta efektivitas operasional dari suatu lahan usaha.
Bagus Rachman melanjutkan, Kementerian UMKM memberi dukungan penuh pada sektor usaha UMKM supaya bertransformasi digital melalui program SAPA UMKM. Melalui program ini, maka UMKM tidak lagi perlu ribet dengan adanya birokrasi yang ruwet, tercecernya data, sulit mengakses pembiayaan serta masih rendahnya pemahaman digital.
“Dengan program SAPA UMKM ini, maka kita menyiapkan UMKM supaya bertumbuh serta naik kelas di masa depan. Program ini akan dikawal sampai tahun 2029, sebagai bukti bahwa pemerintah sungguh-sungguh ingin menjadikan UMKM sebagai motor utama transformasi ekonomi digital Indonesia,” kata Bagus Rachman, menegaskan.
Sementara itu, Kementerian Pertanian telah melakukan proyeksi ketersediaan kakao. Bahwa kakao Indonesia diproyeksikan mengalami pertumbuhan yang positif pada kisaran 2,36% per tahun, mulai pada tahun 2023 hingga 2027. Rinciannya adalah: (2023 – 600 ribu ton), (2024 – 613 ribu ton), (2025 – 629 ribu ton), (2026 – 643 ribu ton), dan (2027 – 659 ribu ton).
Dan meski hanya tipis, namun terdapat data menggembirakan bahwa angka ekspor kakao Indonesia telah mengalami peningkatan. Di mana, nilai ekspor kakao serta produk olahannya mencapai kenaikan 3,4% secara bulanan hingga mencapai angka US$320,52 juta di bulan Januari 2025.
Negara-negara yang menjadi tujuan ekspor kakao Indonesia antara lain: Amerika Serikat (US$71,66 juta), India (US$47,49 juta), dan China (US$35,34 juta). Adapun produk unggulan ekspor meliputi: pasta kakao, minyak dan lemak kakao, bubuk kakao dan mentega kakao.
Potensi Kakao Bali
Bali selama ini dikenal luas sebagai destinasi wisata yang tersohor hingga ke mancanegara. Padahal, selain sebagai destinasi wisata, Bali pun memiliki sisi agrikultur yang potensial apabila digarap dengan serius. Salah satunya adalah tanaman kakao. Keberadaan tanah vulkanik yang subur dan iklim tropis, membuat tanaman kakao di Bali pun berkualitas tinggi.
Data produksi kakao Bali (Sumber : Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali)
Sejumlah petani kakao di Bali hidup menyebar di sejumlah kabupaten. Khususnya didominasi petani-petani yang tinggal di Kabupaten Tabanan, Jembrana dan Karangasem.
Melihat potensi kakao di Bali, maka Kementan memberi dorongan agar Provinsi Bali menjadi salah satu daerah unggulan penghasil kakao untuk peruntukan ekspor. “Berikutnya kan tinggal memperhatikan kemasan dan branding produk yang sebaik-baiknya. Jadi Ditjen Perkebunan selanjutnya akan terus memberikan perhatian pada daerah sentra kakao di Pulau Bali untuk meningkatkan ekspornya,” demikian ditegaskan Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Andi Nur Alam Syah, beberapa waktu lalu.
Rasanya tidak mustahil lagi, mengharapkan agenda berkunjung ke kebun kakao organik menjadi agenda wisata bagi pelancong yang tengah berkunjung di Bali. Hal ini selaras dengan kebijakan pemerintah setempat. Sebelumnya, Gubernur Bali Wayan Koster menetapkan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 8 Tahun 2019 tentang Sistem Pertanian Organik yang merupakan implementasi dari nilai-nilai kearifan lokal. Mulai dari perencanaan Sistem Pertanian Organik, penyediaan Sarana dan Prasarana Produk Pertanian Organik, penyelenggaraan Sistem Pertanian Organik, budidaya Pertanian Organik, kelembagaan Sistem Pertanian Organik, Sertifikasi dan Pelabelan, pemberian insentif, Produk Organik asal pemasukan, pemasaran Produk Pertanian Organik, pembinaan dan pengawasan, dan pembiayaan.
Dan apabila terealisir adanya wisata berkunjung ke kebun kakao organik, tentu kian menambah genre wisata di Bali. Bahwa tidak hanya menemukan ragam budaya dan keindahan panorama semata, wisatawan pun bisa tersejukkan pikirannya tatkala menyusuri hamparan perkebunan kakao yang sarat dengan gelantungan buah kemerahan dan diakhiri mereguk secangkir minuman cokelat hangat. Inilah keramahan alam Bali, inilah Indonesia. (Tri Vivi Suryani)







