AdvertorialBadungHeadlines

Rapat Pansus PPUM DPRD Badung Catatkan Berita Gembira Bagi Pelaku Usaha Mikro

Mangupura, LenteraEsai.id – Kabar gembira bagi warga Kabupaten Badung yang memiliki atau akan terjun ke kancah usaha mikro. DPRD Kabupaten Badung bersama Dinas Koperasi UMKM tengah menggarap Peraturan Daerah (Perda) tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Usaha Mikro (PPUM). Dan akan digelontorkan bantuan subsidi modal usaha maksimal Rp 25 juta per orang.

Pembuatan Perda PPUM itu ditangani Panitia Khusus (Pansus) DPRD Badung diketuai I Wayan Luwir Wiana, karena merupakan Perda inisiatif DPRD Badung. Sedang draf Ranperda PPUM dikerjakan pihak Politeknik Negeri Bali (PNB). Pansus pada Selasa, 25 Juni 2024 melaksanakan rapat menyerap aspirasi di Ruang Rapat Madya Gosana Gedung DPRD Badung di Mangupura.

Hadir Kepala Dinas Koperasi UMKM Badung I Made Widana, Dinas Perizinan, Camat, Lurah dan Perbekel se-Kabupaten Badung. Tampak juga HIPMI Badung, Asosiasi Usaha UMKM Kabupaten Badung, para penggiat usaha mikro dan lainnya.

Setelah Ketua Pansus PPUM, Luwir Wiana membuka rapat, kemudian mempersilakan tim penyusun naskah akademik dari PNB memaparkan Ranperda PPUM. Tim penyusun menyebutkan rancangan terdiri dari 16 Bab dan 77 Pasal. Menurut tim ada penghilangan tiga pasal dari naskah awal. Draf Ranperda disusun bersama OPD yakni Dinas Koperasi UKM Badung dan lainnya.

Sebelum paparan Ranperda dari tim penyusun naskah akademik ditanggapi stakeholder, anggota Pansus I Nyoman Gede Wiradana, Sekretaris Pansus Ni Luh Kadek Suastiari dan anggota Pansus I Gusti Ngurah Saskara memberi penekanan pada Kadis Koperasi UMKM. Yakni meminta data usaha mikro harus valid, target harus jelas, dan matangkan kajian. Apalagi programnya nanti akan ada penggelontoran subsidi bantuan modal untuk usaha mikro dari Pemkab Badung.

“Pak Kadis Koperasi UMKM saya minta harus by data. Di bawah nanti pasti sibuk. Target harus jelas, matangkan kajian, kinerja jelas. Tidak kalah penting usaha mikro dibina mengenai pentingnya inovasi. Di bidang usaha perdagangan misalnya, mereka berkompetisi sangat ketat. Mengapa berjualan produk yang sama pada suatu warung ramai pembeli, sedang warung yang lainnya sepi. Kuncinya berinovasi, itu yang penting dibina di bawah. Itu saya tahu, karena saya orang lapangan,” ujar Wiradana, bersemangat.

Sekretaris Pansus PPUM Ni Luh Kadek Suastiari mengatakan, pengusaha mikro masih awam urusan administrasi. Maka dari itu harus dibantu dari pemerintah (Dinas Koperasi). Juga terkait administrasi usaha mengurus bantuan subsidi modal usaha nanti. Dinas Koperasi diminta jemput bola. Ia juga bicara tentang perlu pengaturan toko modern. Jangan sampai mematikan usaha mikro dari masyarakat.

“Perda PPUM jangan nantinya jadi Perda di atas kertas. Maka pembinaan dan pendataan di lapangan harus sungguh-sungguh. Beri informasi yang benar tentang UMKM, supaya tidak ‘mekalukan’ (ricuh) di bawah,” ucapnya, menekankan.

Demikian pula anggota Pansus IGN Saskara, minta pemberian bantuan stimulus pada usaha mikro diawali menyampaikan informasi dan pendataan yang akurat, karena usaha mikro di desa sangat banyak, tetapi tidak ada perizinannya. Misalnya usaha membuat pisau, ternak babi, bengkel, usaha membuat jajan Bali dan sebagainya. Mereka mesti diberi perlindungan hukum. Bantuan stimulus supaya mampu menyentuh ke bawah.

Bukan hanya itu, Saskara juga bicara perlunya usaha mikro diberi insentif pengurangan pajak daerah, pengurangan distribusi dan lainnya. Perlu juga dibangun sebuah model usaha mikro yang tidak ada kerancuan di bawah, sehingga terwujud perlindungan dan pemberdayaan UMKM.

Kadis Koperasi UMKM Badung Made Widana menanggapi, usaha mikro adalah lahan usaha dengan modal Rp 0 sampai Rp 1 miliar dan omzet maksimal Rp 2 miliar setahun. Soal data, ia menyebut ada di kelurahan dan desa. Mengenai pembinaan pihaknya hampir setiap hari turun ke desa memberi pembinaan. “Memang ke depan UMKM harus berbasis database. Berbeda dengan data kementerian. Desa dan kelurahan yang input data, ” katanya sembari membenarkan bahwa UMKM terbentur perizinan, karena mereka takut dikenai pajak.

Kadis Koperasi UMKM Badung menambahkan bahwa pihaknya sudah menganggarkan subsidi bantuan modal usaha mikro untuk 100 orang tahun 2024 ini. Jadi mendahului Perda PPUM. Bantuan maksimal Rp 25 juta per lahan usaha. Ada kekhususan bagi usaha mikro yang dilakoni perempuan dan disabilitas. Ketentuannya hanya bayar pokok, administrasi dibayar pemerintah. Uangnya nanti dikeluarkan Bank BPD. Angsuran dua tahun.

“Siapa saja yang berhak?. Supaya tidak ‘merta matemahan wisia’ (jadi masalah), ketentuannya usaha mikro harus melampirkan surat usaha dari Perbekel atau Lurah. Soal kelayakan mendapat subsidi bantuan modal itu menjadi kewenangan Bank BPD, ada servei ke lapangan. Kami tidak intervensi,” ujar Widana, menjelaskan.

Dalam sesi tanya jawab, Perbekel Desa Darmasaba pertama angkat bicara. Ia minta pemerintah supaya fokus pada perlindungan UMKM. Di masyarakat sangat banyak usaha UMKM tetapi pelaku UMKM sangat jarang mau didata, khawatir dijadikan sasaran pajak.

Sekretaris Desa Buduk menyebutkan di wilayahnya menjamur usaha modern. Dari HIPMI Badung mengusulkan supaya pengusaha besar dan pemerintah bekerja sama untuk menampung produk UMKM. Kalau bisa pengusaha besar mau menggunakan produk UMKM. Selain itu pemerintah supaya intensif melakukan pengawasan. Karena ada dugaan banyak pengusaha PMA berkedok UMKM.

Karena keterbatasan waktu, peserta yang masih ada usul, saran, tanggapan dan masukan diminta menyampaikannya via surat ke Pansus PPUM. Ketua Pansus Luwir Wiana menjawab awak media massa usai rapat menjelaskan, hanya Pemkab Badung bisa menggelontorkan subsidi bantuan modal usaha mikro sebesar Rp 25 juta per orang. Ia minta program itu bisa menggairahkan usaha mikro di Kabupaten Badung.

“Mengenai ada dugaan banyak usaha PMA berkedok usaha mikro, kami akan melakukan pengecekan ke lapangan. Kami senang rapat tadi berlangsung hidup, banyak masukan, tanggapan, dan saran dari peserta. Sayang waktunya terbatas. Maka yang belum mendapat kesempatan bicara, nanti bersurat saja ke Pansus, ” kata Luwir Wiana, menyampaikan.

Pewarta: I Made Astra
Redaktur: Laurensius Molan

Lenteraesai.id