Denpasar, LenteraEsai.id – Kehidupan ‘past life’ seseorang memiliki keterkaitan yang erat dengan masa kekinian. Inilah yang menjadikan rangkaian kejadian di kehidupan seakan-akan penuh cobaan, tanpa diketahui kenapa hal demikian dapat terjadi secara terus-menerus.
“Saya pernah memiliki seorang pasien yang seperti ‘terjebak’ di Arab Saudi selama 20 tahun. Tidak bisa pulang ke Indonesia, padahal majikannya sangat baik. Namun seperti ada saja penghambat sehingga si pasien ini tidak kunjung bisa ke Indonesia untuk sekedar menengok keluarga,” kata tokoh spiritual Elad (42), mengisahkan kepada media LenteraEsai di Denpasar, Kamis (18/1/2024) siang.
Elad melanjutkan, si pasien kemudian dipelajari kehidupan masa lalunya dengan teknik scan past life. Ternyata, di kehidupan lampau, majikan itu adalah ayah kandung si pasien. Hubungan mereka sangat baik dan serasi di kehidupan lampau. Bahkan sang ayah berlaku terlampau baik pada putrinya. Dengan demikian, maka di kehidupan sekarang si pasien harus terlebih dahulu menyelesaikan karmanya sampai lunas pada majikannya, baru bisa pulang ke Indonesia.
“Jadi jangan sepelekan karma. Ketika ada seseorang berbuat baik pada kita, misalnya memberikan sesuatu, itu sama dengan hutang. Dan hutang adalah sesuatu yang harus dibayar. Kalau tidak dibayar di kehidupan sekarang, maka di kehidupan berikutnya tugas kita adalah membayar hutang itu. Karena karma tidak bisa dilepaskan dari kita. Dan yang menggerakkan karma adalah pikiran. Jadi kita berniat misal menyakiti seseorang, itu artinya sudah terjadi di alam metafisika, meski belum berlangsung di kehidupan fisik. Itu sudah bisa menjadi karma,” ujar Elad, mengingatkan.
Pria yang tinggal di Ubud, Kabupaen Gianyar, Bali ini meneruskan, sebenarnya falsafah keilmuan Nusantara ini begitu adiluhung, yang tidak bisa diperbandingkan dengan ajaran dari negara manapun. Jika saja warga Indonesia menjadi berkesadaran dan mempelajari lagi ajaran Nusantara, maka niscaya kegemilangannya akan kembali lagi. “Jika mau maju dan menuju kejayaan Nusantara, tentu harus dikembalikan ke individu masing-masing. Ada atau tidak kemauannya? Karena titik tolaknya adalah pembentukan keluarga berkualitas, agar terwujud pula anak berkualitas. Unsur terkecil dulu yang harus diperhatikan, yakni dari struktur keluarga,” kata Elad yang pada kesempatan ini bersama istrinya Kasia.
Sekarang ini, lanjutnya, alam sudah makin banyak yang rusak akibat eksploitasi berlebihan. Dengan demikian, penghuni bumi menjadi ikut sakit. Apabila alam dirawat dan dilestarikan, maka manusia turut menjadi sehat.
“Makanya kalau belajar spiritual jangan dipersempit hanya pada bidang supranatural saja. Pelajari pula soal psikologi, sains, filsafat, dan bidang keilmuan lainnya. Kan manusia itu makhluk pembelajar,” kata pemilik akun IG elkasia369 ini.
Pewarta: Vivi Suryani
Redaktur: Laurensius Molan







