Jro Dewi Tangani Penyakit Medis-Nonmedis, Kuasai Totok Aura Berkat Kanjeng Ratu Kidul

Jro Dasaran Dewi yang tinggal di Dalung, Badung. (Foto: Dok Pribadi)

Denpasar, LenteraEsai.id – Terlahir sebagai anak ‘melik’, sejak berusia belia perempuan bernama lengkap Ni Luh Dewi Astuti Ningsih ini sering dibayangi berbagai penampakan menyeramkan yang berkelebatan di depan matanya. Tidak hanya penampakan berbagai bayangan seram, namun beberapa model makhluk astral juga sering kali membuntuti putri sulung dari pasangan I Nengah Sunarta dan Ni Ketut Sudiasih.

“Akhirnya, ayah saya menutup mata batin saya. Itu terjadi ketika saya duduk di bangku sekolah dasar. Sejak saat itu, hidup saya menjadi tenang kembali. Badan saya juga menjadi lebih sehat, karena sebelumnya sakit-sakitan,” kata perempuan yang akrab dipanggil Jro Dewi, ketika ditemui di kediamannya di wilayah Dalung, Kabupaten Badung, Bali pada Minggu (23/7/2023) petang.

Bacaan Lainnya

Ketika beranjak remaja dan mulai menapaki bangku SMA, kemampuan istimewa Jro Dewi muncul lagi. Tatkala mengikuti kegiatan Pramuka dan mengadakan event perkemahan, Jro Dewi kembali dibayangi makhluk-makhluk besar yang muncul di antara rerimbunan pepohonan, dan terus mendekat. Namun Jro Dewi tidak merasa takut atau dicekam kengerian, karena ayahnya sudah memberi ‘bekal’ untuk melindungi keselamatan dirinya.

Kemampuan istimewa ini makin berkembang dengan sendirinya seiring pertumbuhan usia Jro Dewi. Ketika menginjakkan masa studi di ASTI Jurusan Tari, Jro Dewi sering mengalami kerauhan. Saat itu, Jro Dewi sebagai anak muda, sering kali berpenampilan meriah dengan rambut warna-warni karena melakoni profesi penari. Ia juga menjadi penata rias, sehingga tidak canggung dengan aksesoris atau seni tata rias.

“Ayah kadang mengingatkan bahwa saya harus menjaga perilaku karena saya ‘diiyangin’ Ida Bhatara. Kemudian di suatu hari tahun 1996, ayah mengatakan bahwa saya ‘diiyangin’ Ratu Niang Sakti. Saya ditanya tentang kesiapan untuk ‘ngiring’. Saya menyatakan siap, karena menyadadari sejak kecil memang ada yang berbeda dengan diri saya dengan teman-teman kebanyakan. Saya kemudian ‘disidang’ sejumlah jro mangku yang menjadi saksi ketika akhirnya disahkan bahwa memang sudah waktunya saya ‘melinggih’,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Jro Dasaran ini.

Sejak itu, berbagai keganjilan demi keganjilan menghampiri hidup Jro Dewi. Sampai akhirnya pada tahun 2002, datang seseorang ke rumah Jro Dewi, yang berteriak-teriak dan mengatakan mau bunuh diri. Jro Dewi yang waktu itu masih kebingungan karena belum pernah berpengalaman mengobati seseorang, akhirnya mengikuti petunjuk yang diterima dan memberikan air putih. Dalam tempo beberapa menit saja, orang itu perlahan tenang, dan akhirnya mencurahkan segenap permasalahan hidupnya kepada Jro Dewi. Ketika diberikan nasihat dan beberapa tuntunan, orang itu tersadar dan telah mengikhlaskan apapun yang terjadi sebagai bagian dari jalan yang digariskan Hyang Widhi Wasa.

Semenjak itu, secara tak terduga setiap hari silih berganti orang-orang datang untuk berobat ke rumah Jro Dewi, dengan berbagai ragam penyakit mulai dari sakit medis hingga nonmedis.

“Beberapa kasus KDRT juga pernah saya tangani, bahkan saya sampai ikut menjadi saksi di pengadilan. Ada juga kasus pelecehan spiritual. Jadi ada pasien yang berobat ke tokoh spiritual karena suaminya tergoda perempuan lain. Ternyata, ia datang pada orang yang salah, karena dengan dalih pengobatan malah diperlakukan asusila dan pasien mengaku saat itu dalam keadaan tidak sadar alias linglung. Ketika bertemu saya, baru saya kuatkan mentalnya. Ia tidak salah sesungguhnya karena dalam ikhtiar mempertahankan rumah tangga, hanya saja ketemu orang yang salah sehingga terjadilah kasus pelecehan itu,” ujarnya, ikut prihatin.

Kini Jro Dewi lebih fokus membantu pengobatan dengan landasan ingin ‘ngayah’ kepada Tuhan. Berbagai pasien datang biasanya membawa keluhan, sampai ada yang pernah dibopong menggunakan kursi roda dan lehernya digelayuti infus. Selain itu, ada pula pasien yang melakukan ritual ‘metuun’ untuk memohon petunjuk pada leluhur atau seseorang yang telah meninggal dunia, misalnya jika akan dilangsungkan upacara pengabenan. Ritual ini lazim disebut nunas baos pengabenan, di mana pasien yang datang diharapkan membawa pejati, kwangen serta rantasan putih kuning.

Selain itu, ada pula ritual meditasi kesehatan bagi yang ingin mencapai keseimbangan jasmani rohani serta totok aura untuk yang ingin pancaran tubuh atau wajahnya ‘fresh’ dan beraura positif bagi yang memandang.

Peminat totok aura, lanjut Jro Dewi, kebanyakan ibu-ibu yang ingin ‘inner beauty-nya’ menonjol sehingga pancaran wajah bisa terlihat menarik. Bahkan, tidak jarang ada juga cewek-cewek kafe yang sengaja datang untuk melakukan totok aura agar pelanggan betah datang berkunjung.

Menurut Jro Dewi, ada kisah menarik beberapa tahun tentang totok aura ini. Suatu hari ada perempuan yang berwajah cantik dan anggun datang ke rumah Jro Dewi. Wanita itu menggunakan kebaya hijau, kemudian menghilang setelah meninggalkan pesan misterius supaya Jro Dewi datang ke Pura Watu Klotok, Klungkung.

Jro Dewi kemudian teringat bahwa perempuan yang mendatanginya adalah Kanjeng Ratu Kidul, penguasa laut selatan. Tak lama berselang, Jro Dewi berangkat menuju Pura Watu Klotok ditemani keluarganya untuk melakukan persembahyangan. Usai bersembahyang, keluarganya mengajak pulang. Jro Dewi bergeming di tempatnya, karena masih dilanda gundah. Kalau memang Kanjeng Ratu Kidul memanggilnya supaya datang ke Pura Watu Klotok, masa dirinya dibiarkan pulang begitu saja tanpa ada petunjuk atau pesan yang akan beliau sampaikan ?.

Saat itulah, Jro Dewi kemudian terhentak dan bahkan kepalanya membentur bebatuan padas. Bersamaan dengan itu, Jro Dewi mendengar sabda dari Kanjeng Ratu Kidul yang meminta dirinya mulai hari itu harus ‘ngiringang’ Ratu Pantai Selatan. “Beliau juga menganugerahi saya kemampuan totok aura,” ucapnya.

Atas anugerah tersebut, Jro Dewi sejak itu tidak hanya dikenal sebagai balian atau Jro Dasaran, tetapi juga ‘wikan’ dalam ilmu totok aura. “Belakangan cukup banyak orang datang ke tempat saya, ingin belajar meditasi atau totok aura. Sejumlah teman artis Ibu Kota juga sering datang ke rumah saat mereka kebetulan sedang berada di Bali,” ujarnya di akhir perbincangan.  (LE-Vivi)

Pos terkait