Jakarta, LenteraEsai.id – Di sejumlah negara, termasuk di Indonesia, masyarakatnya sering berkelakar bila menemukan orang yang bagian atas kepalanya mulai botak, kerap menjulukinya sebagai profesor. Itu artinya, profesor umumnya adalah orang yang telah kehilangan, palinng tidak sebagian rambutnya.
Hilangnya sebagian rambut di bagian kepala, juga sering ditafsirkan sebagai seseorang yang terlalu banyak berpikir. Masuk di akal, menjadi profesor tentu dituntut untuk banyak berpikir. Talebih dari itu, seorang pendidik yang kemudian mendapat gelar profesor, umumnya sudah tergolong berusia lanjut. Karenanya, kalau tidak botak, ya rambut mulai memutih alias ubanan.
Terlepas dari semua itu, kini telah terlahir seorang profesor yang masih berambut hitam. Dan nampaknya masih terlaju jauh untuk menuju pase kehilangan rambut. Dia adalah Prof Dr Ibnu Sina Chandranegara SH MH, dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), yang baru-baru ini meraih gelar profesor atau guru besar di usianya yang masih tergolong muda, 33 tahun.
Prestasi yang diraih Ibnu Sina bisa dibilang melunturkan stereotip bahwa menjadi seorang profesor itu harus berambut putih, bahkan gundul. Di hadapan peserta Webinar Komunitas Sevima pada Selasa (13/6/2023), Prof Ibnu Sina mengakuai adanya stereotip itu di masyarakat.
“Ada stigmanisasi dan stereotip yang muncul di balik jabatan akademik profesor atau guru besar. Jadi mengapa tidak, stereotip dan stigma profesor harus berambut putih bisa kita lunturkan?,” kata Ibnu Sina, dengan nada mempertanyakan.
Ibnu Sina secara resmi telah diangkat dalam jabatan fungsional guru besar dalam Bidang Hukum Tata Negara terhitung 1 April 2023. Surat keputusan tentang itu akan ia terima secara langsung pada bulan Juni ini, dan akan dikukuhkan di Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Ilham Dary, moderator pada Wibinar Komunitas Sevima mengungkapkan, capaian tersebut sekaligus mengukuhkan Ibnu Sina sebagai guru besar bidang hukum termuda di Indonesia. Sebelumnya, capaian profesor hukum termuda dicatatkan oleh Wakil Menteri Hukum dan HAM Prof Eddy OS Hiariej di usia ke-37, menyusul Rektor Universitas Jenderal Ahmad Yani Prof Hikmahanto Juwana di usia ke-38, dan Dekan Fakultas Hukum Universitas Jember Prof Bayu Dwi Anggono di usia ke-39.
Perjalanan Meraih Guru Besar
Dijelaskan dalam Webinar Komunitas Sevina, Ibnu Sina mulai berkarier sebagai dosen di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) sejak tahun 2011. Dengan begitu, pria kelahiran Jakarta 11 Oktober 1989 tersebut, telah 12 tahun berkarier sebagai dosen.
Sebelumnya, Ibnu Sina menuntaskan studi sarjana dan magister hukumnya di Universitas Muhammadiyah Jakarta, dan studi doktor hukum di Universitas Gadjah Mada. Ibnu Sina juga aktif sebagai editor kepala jurnal, praktisi, dan konsultan di berbagai firma hukum.
Selain itu, Ibnu Sina juga sempat menjadi kuasa hukum Pengurus Pusat Muhammadiyah saat mengajukan gugatan terhadap Undang-Undang Sumber Daya Air yang akhirnya dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. Bersama kolega, Ibnu Sina berhasil menunjukkan praktik privatisasi dan komersialisasi air yang ternyata merugikan rakyat.
“Sejak awal meniti karier sebagai dosen, saya memang berfokus dan mempersiapkan diri di bidang hukum tata negara (HTN). Aktivitas tridharma perguruan tinggi (pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat) yang saya lakukan juga berfokus di bidang HTN,” kata Ibnu Sina, menandaskan.
Capaian menjadi guru besar, menurut Ibnu Sina tidak terlepas dari dukungan institusi tempatnya bekerja. Mulai dari karir awal sebagai dosen, dirinya terus dibimbing hingga penyusunan karya ilmiah oleh guru besar di UMJ. Selanjutnya terus dilakukan pendampingan dalam penyusunan strategi hingga mendapatkan pembiayaan secara mandiri oleh perguruan tinggi.
Universitas Muhammadiyah Jakarta juga menurutnya sangat menyederhanakan urusan administrasi dan birokrasi, sehingga ia bersama rekan-rekan dosen bisa fokus meniti karir dan terus meneliti.
“Saya lektor kepala tahun 2018, cukup lama diangkat ke guru besar. Yang penting ada dukungan institusi dan budaya feodalisme di institusinya terkikis dan sudah lumer, sehingga stigma profesor di usia muda tidak jadi hambatan secara presepsi akademik,” ucapnya, bersemangat.
Bagi yang ingin mengikuti jejak menjadi guru besar di usia muda, Ibnu Sina membagikan empat tips sukses menjadi guru besar. Yaitu, manajemen karir yang konsisten, perbanyak membuat karya ilmiah, dan selalu produktif menulis jurnal, dan atur rencana strategis secara jangka panjang.
Kombinasi keempat tips tersebut ia contohkan seperti saat menulis jurnal. Jurnal tidak hanya harus ditulis secara baik tentang isi dan gaya penulisannya, tetapi juga di waktu-waktu yang tepat dan tidak banyak pesaing seperti saat liburan kuliah maupun akhir tahun.
Begitu pula saat menjadi narasumber acara maupun seminar yang menjadi kegiatan rutin dosen. Jangan hanya membuat power-point, tapi rancanglah esai sepanjang 5-7 halaman. Esai tersebut nantinya dapat diolah menjadi jurnal dan penelitian.
“Menjadi guru besar tidak hanya tentang kecerdasan, tetapi juga tentang strategi. Misalnya ketika liburan kuliah, atau akhir tahun saat orang-orang Eropa sedang libur musim dingin, kita manfaatkan untuk menulis jurnal internasional sehingga saingannya berkurang. Begitupula ketika menjadi narasumber acara, jangan buat power-point tapi buat esai 5-7 halaman. Ketika itu konsisten dilakukan, maka mimpi yang kita rancang bisa tercapai,” ujar Ibnu Sina, menjelaskan. (LE/Nes)







