BEM FKH Unud Gelar Kuliah Umum Perdana Pengobatan Hewan Peliharaan

Kuliah umum BEM FKH Unud secara daring. (Foto: Dok Humas Unud)

Denpasar, LenteraEsai.id – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) menggelar kuliah umum dengan menyasar mahasiswa FKH Unud dan seluruh mahasiswa FKH di Indonesia. Kuliah umum perdana BEM FKH ini diselenggarakan secara online melalui Cisco Webex Meeting, pada Sabtu (6/8).

Kuliah umum adalah acara yang dirancang untuk memberikan ilmu kepada mahasiswa atau masyarakat umum di luar proses pembelajaran kedokteran hewan di kampus. Materi pada kuliah umum bersifat fleksibel dalam artian tidak terpaku pada mata kuliah yang ditempuh, melainkan inovasi dari kasus atau permasalahan yang ada di sekitar.

Bacaan Lainnya

Badan Eksekutif Mahasiswa FKH pada kuliah umum perdananya mengangkat tema penyakit yang umum ditemui pada hewan kesayangan yaitu ‘Traditional Vs Modern: More Effectiveness Treatment For Dermatology Case At Pet Animal’ yang pada dasarnya adalah perbandingan pengobatan modern dan tradisional yang diterapkan pada kasus dermatologi untuk hewan kesayangan seperti anjing dan kucing.

Pada kuliah umum ini, panitia pelaksana mengundang dua pembicara yang profesional dan tentunya berpengalaman di bidang dermatologi, khususnya hewan kesayangan. Mereka adalah drh Putu Ayu Sisyawati Putriningsih SKH MSi PhD sebagai staf dermatologi vet, dan Martina Tiodara Sitohang SKH sebagai mahasiswa Co-Ass. Kedua pembicara membagikan pengalaman serta ilmu yang bermanfaat pada seluruh peserta yang mengikuti kuliah umum perdana ini.

Pembawaan materi oleh drh Putu Ayu Sisyawati Putriningsih SKH MSi PhD, dimoderatori oleh Lefira, mahasiswa aktif dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Angkatan 2020. Lefira tampil memandu jalannya pemateri 1 dan diskusi.

Pada intinya, drh Sisyawati menyampaikan bahwa dermatologi merupakan materi yang mempelajari tentang kulit dan yang berkaitan dengan kulit. Bagian dari sistem kulit sendiri ada epidermis, dermis, dan hypodermis. Selanjutnya kulit memiliki beberapa bentuk perlindungan berupa rambut sebagai pertahanan fisik pertama, epidermis, lipid, pH, dan immunoglobulin. Untuk pemeriksaan kulit dapat dilakukan dengan cara mencaritahu sinyalemen, anamnesis, melihat gejala dan tanda klinis, diagnosa banding, pemeriksaan lab dan penunjang.

Sementara itu, materi kedua oleh Martina Tiodara Sitohang SKH terkait pengobatan tradisional pada kasus dermatologi pada hewan kesayangan.

“Ada beberapa penyebab gangguan kulit, bisa karena fungal, parasit, bakteri, virus, alergi, gangguan imun dan metabolit serta defisiensi nutrisi. Skripsi yang ditempuh dulu memiliki kesamaan dengan topik yang dibawakan yaitu berjudul penggunaan madu trigona pada anjing penderita dermatitis kompleks. Pengobatan herbal di Indonesia dirasa lebih berkembang karena persebaran flora yang beragam dengan fungsi dan keguanaan yang beragam pula. Seperti marigold, lidah buaya, dan lain sebagainya. Dan hasil penelitian menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata. Namun tetap memberikan reaksi kesembuhan,” ujar Martina, menjelaskan.  (LE-DP)

Sumber: www.unud.ac.id

Pos terkait