Om King Berbagi Kisah Tentang Kebangkrutan di Australia dan Raup Ratusan Miliar dari Kripto

Om King yang dikenal sebagai koin micin 'hunter'

Denpasar, LenteraEsai.id – Menjadi miliuner dalam sekejap mata, tentu menjadi impian setiap orang. Seperti sosok pria yang akrab disapa Om King, yang belakangan fenomenal karena mampu mengumpulkan pundi-pundi hingga ratusan miliar dari berburu koin kripto micin, dalam rentang waktu yang singkat. Padahal di balik kisah suksesnya, pria ini memiliki sederet perjuangan jatuh bangun sampai di titik saat ini dikenal sebagai ‘koin micin hunter’.

Pria ini kelahiran Denpasar – Bali, dan aslinya berasal dari Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Klungkung. Belakangan Om King mendadak banyak diperbincangkan ketika beberapa kali muncul tayangan di sebuah channel YouTube menjabarkan pengalaman investasi kripto, yang saat ini memang tengah booming.

Bacaan Lainnya

“Saya baru mulai mempelajari kripto pada awal Maret 2021. Mengenai fundamental, teknikal dan segala yang berkaitan dengan kripto, saya pelajari dari Google, YouTube dan referensi lainnya. Berikutnya, saya menginvestasikan uang sebesar Rp 300 juta dengan membeli koin Chiliz, Holo Chain dan One Harmony,” kata Om King, ketika dijumpai di kantornya di Denpasar pada akhir Maret 2022.

Selanjutnya, kata Om King, tidak disangka harga koin itu ‘meledak’ hanya dalam tempo dua minggu, sehingga dari modal investasi Rp 300 juta, seketika berkembang menjadi Rp 4,5 miliar pada pertengahan Maret 2021. Perkembangan pesat ini membuat Om King kian fokus mempelajari berbagai jenis koin-koin kripto baru yang prospektif.

Seorang pemain kripto asal Kalimantan bernama Bonifasius Enjang Noveryanto atau Om Ebon, kemudian mengajaknya bermain koin micin. Mata uang digital yang menjadi pendatang baru ini, lazim disebut sebagai koin micin dan harganya masih terbilang murah. Berbekal pengetahuan atau riset mendalam, Om King lantas tidak segan lagi menginvestasikan uang pada koin micin, sampai akhirnya pernah mencapai angka Rp 112 miliar.

“Saat ini, sudah ada 20 ribuan mata uang kripto, sehingga membuat kita mesti teliti dan riset lebih dulu kemana uang kita nanti diinvestasikan. Jangan sekedar ikut-ikutan kripto yang lagi tren, harus benar-benar dibekali pengetahuan mengenai project-nya apa dan sudah berapa persen project itu berjalan,” katanya.

Om King menyarankan bagi pemula, bisa mencoba dengan berinvestasi di top ten coin di martket cap sehingga resiko bisa ditekan. Jika ada penurunan, paling hanya berkisar 20-30% sehingga tidak kehilangan seluruh dana yang dimiliki. Namun seiring dengan bertambahnya pengetahuan tentang dunia kripto, lengkap dengan segala resikonya, bisa mulai berekspansi pada koin-koin baru.

“Sekali lagi, berinvestasi pada koin baru atau koin micin ini ya seperti saya ulas sebelumnya, harus pelajari dulu fundamental serta project-nya. Selain utility atau kegunaan dari koin itu apa, ini yang harus jelas lebih dulu sebelum akhirnya kita menanamkan uang untuk investasi. Dan yang terpenting, pakailah uang dingin, jangan uang panas, misal uang harian untuk biaya hidup,” ujar Om King, berpesan.

Sempat Bangkrut Berhutang Miliaran di Australia

Meski kini kelangsungan hidup yang salah satunya ditopang dari passive income kripto, namun Om King mengisahkan bahwa perjalanan hidupnya tidak sertamerta atau ‘ujug-ujug’ mulus. Ada masa-masa pahit, di mana dirinya mengalami keterpurukan dan bangkrut hingga miliaran rupiah semasa masih tinggal di Australia. Kebangkrutan ini dialami Om King, karena waktu itu salah prediksi ketika dirinya menanamkan uang di saham luar negeri menggunakan uang panas dari credit card. Dan ketika nilai saham itu jeblok, alhasil kerugian pun harus dipikul Om King dengan nilai yang tidak tanggung-tanggung.

“Jadi begini, waktu kecil kan memang kita di keluarga dibiasakan untuk mengenal literasi keuangan. Ayah saya merupakan seorang pendidik yang selalu mengingatkan dan menekankan agar anak-anaknya sudah terbiasa menabung sejak usia dini,” kata Om King.

Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), Om King sudah dibiasakan untuk menyisihkan sebagian dari uang sakunya. Saat itu, dirinya menerima uang saku sebesar Rp 10-15 per hari. Orang tuanya kemudian menyiapkan sejumlah celengan dari tanah, sehingga Om King dan ketiga saudaranya terbiasa menabung setiap hari. Ketika mulai bersekolah di SMP, Om King kemudian diberikan uang sebesar Rp 2 juta pada tahun 1985. Uang itu diminta ayahnya untuk didepositokan, dan setiap bulan boleh diambil bunganya untuk bekal sekolah.

Mendapati hal ini, Om King lantas mencari informasi sejumlah bank untuk mengetahui tingkat bunga depositonya. Akhirnya Om King mendepositokan uangnya pada salah satu bank, yang memberikan tingkat bunga tertinggi, yakni 21%. Saat itu, bunga deposito yang didapatkan Om King adalah Rp 25 ribu per bulan. Survei berbagai bank ini, tentu saja membuat Om King menjadi melek terhadap beragam produk investasi keuangan di perbankan.

Pemberian uang untuk didepositokan ini berlanjut hingga hendak memasuki sekolah di SMA. Ayahnya lagi-lagi mengucurkan uang. Kali ini dengan jumlah lebih besar dari sebelumnya. Seperti rute sebelumnya, Om King juga kembali mereview sejumlah bank untuk komparasi bunga deposito. Dilanjutkan, mempelajari berbagai jenis instrumen keuangan yang disediakan bank. Pengetahuan ini membuat cara dalam mengelola keuangan Om King semakin meningkat dari waktu ke waktu.

“Meski mulai ngeh dengan literasi keuangan, tapi bukan berarti saya memutuskan untuk menjadi seorang bankir atau ingin kuliah di jurusan ekonomi, tidak demikian. Karena sejak SMA, saya sudah menyukai bahasa pemrograman di komputer. Bahkan, saat SMA, saya sudah kursus komputer, sehingga ketika lulus sekolah menengah atas, saya langsung mendaftar untuk kuliah di jurusan teknik informatika di sebuah kampus di Surabaya,” ucapnya.

Usai menimba ilmu di Surabaya selama 4 tahun, pria ini lantas mendaftarkan untuk kuliah S2 di Australia. Om King mengambil dua kali S2 yang dijalani selama 4 tahun, sehingga kemudian mendapatkan dua gelar S2, yakni Master of International Bussiness dan Master of Information Technology. Setelah menamatkan S2 inilah, dia memutuskan untuk berkarir di Australia di perusahaan yang bergerak di bidang keuangan.

Selanjutnya pada tahun 2003, dia mulai belajar pasar modal dan intens menanam saham luar negeri. Merasa sudah memiliki bekal ilmu memadai tentang saham, Om King kemudian melebarkan keberanian dengan mengambil dana 5 kartu kredit yang dimiliki, dan kesemuanya dimasukkan contract for difference (CFD) dan ternyata terjadi salah prediksi sehingga uang yang ditanamkan malah menguap.

“Harusnya saya membeli index emas di CFD 5 hari kemudian, agar prediksinya bisa tepat. Karena salah prediksi inilah saya bangkrut habis-habisan dengan kerugian mencapai miliaran rupiah. Seketika saya berada di titik terendah sekali, dengan menanggung hutang sebanyak itu. Tapi saya jalani dengan berupaya mati-matian, karena harus menanggung bunga per bulan saja sebesar 21% dan akhirnya dalam kurun waktu 5 tahun, hutang miliaran itu dapat terbayarkan. Saya bersyukur sekali dan seperti menjadi manusia baru. Saya kemudian balik lagi ke Indonesia, ke tanah kelahiran di Bali, dengan tanpa embel-embel berhutang,” ujarnya, sembari menarik nafas lega.

Setiba di Bali, Om King menjadi dosen di salah satu universitas swasta di Pulau Dewata, namun kemudian kembali lagi mempelajari peluang di instrumen pasar modal. Ternyata baginya, menanamkan uang di pasar modal terbilang lambat lajunya, sehingga ketika istrinya melahirkan pada Februari 2021, ketika di waktu malam sering berjaga bayi bergantian dengan istri, Om King mulai tertarik untuk menanamkan uang dengan berinvestasi di kripto. Setelah belajar secara otodidak dan di belakang hari mendapat panduan dari Om Ebon inilah, akhirnya Om King kini memutuskan sebagai ‘koin micin hunter’.

“Tentu tidak selamanya saya beruntung. Ada saat-saat di mana saya mengalami rug pull, atau ketika menanamkan deposito kripto dengan iming-iming janji bunga 1000%, ternyata malah nilai kripto itu jatuh sehingga ya saya menanggung kerugian. Tapi inilah investasi, high risk high return. Selalu ada resiko dari setiap pilihan,” kata Om King mengakhiri pembicaraan.  (LE-DP)

Pos terkait