BadungHeadlines

Tangsi Jepang ‘Berdarah’ di Hutan Baha, Kini Tak Lagi Berbekas

Badung, LenteraEsai.id – Tangsi atau besecamp milik tentara Jepang di Hutan Baha di Desa Baha, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, sangat dikenal di kalangan para pejuang kemerdekaan, khususnya yang melakukan pergerakan di Pulau Dewata.

Menurut cerita para veteran, banyak kisah suka dan duka yang tertoreh di benak pejuang kemerdekaan atas keberadaan Tangsi Jepang yang kerap dijuluki markas ‘bermandi darah’ di tengah Hutan Baha tersebut.

Para pejuang yang melakukan perlawanan kemudian ditangkap dari sejumlah desa di wilayah Badung dan sekitarnya, langsung digiring dan dijebloskan ke dalam ruang berkerangkeng besi di dalam tangsi di tengah hutan itu.

Di tempat itu mereka diinterogasi, ditanya tentang jumlah kekuatan, persenjataan, pimpinan pejuang dan lain-lain, hingga tak jarang mengalami siksaan yang berujung kematian.

“Banyak rekan-rekan pejuang yang disiksa di Tangsi Jepang di Hutan Baha. Bahkan yang dianggap pimpinan ‘pemberontak’, langsung dibunuh,” kata Sekretaris Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Cabang Badung, I Made Sandi dalam wawancara dengan pewarta LenteraEsai (LE) belum lama ini.

Karena penasaran dengan cerita-cerita para veteran pejuang, pewarta LE sempat berkeliling-keliling di kawasan Hutan Baha eks lokasi Tangsi Jepang. Tetapi penelusuran tidak membuahkan hasil. Artinya, Tangsi Jepang di Hutan Baha yang terkenal itu, kini sama sekali sudah tidak ada bekasnya lagi.

Bangunan tangsi yang konon bertembok kokoh dan berpagarkan kawat berduri, kini sudak tidak berbekas setelah diratakan dengan tanah oleh para pejuang dan penduduk yang sempat kesal oleh tindakan kejam para serdadu yang mereka sebut Dai Nippon.

Tindakan pembumihangusan tangsi tersebut dilakukan penduduk pascaminggatnya para serdadu setelah Hirosima dan Nagasaki dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat pada 1945.

Kini tidak ada sama sekali bangunan bekas tangsi. Yang ada di lokasi itu sekarang adalah bangunan-bangunan rumah milik penduduk, kubu (pondok), kandang sapi dan sebagainya.

Menariknya, lokasi yang disebut-sebut Hutan Baha itu, sepertinya kini tidak layak lagi disebut hutan. Karena tidak ada pohon-pohon besar berderet dan tumbuh rimbun di kawasan yang cukup luas itu. Yang ada hanya pohon-pohon kelapa, buah-buahan seperti nangka, durian dan sebagainya, yang tumbuhnya cukup teratur sebagaimana layaknya sebidang kebun.

Sejumlah warga yang ditemui pewarta LE pun menyebutkan, tidak pernah mengetahui dan tidak menemukan bekas-bekas bangunan Tangsi Jepang di lokasi tersebut.

Sekretaris LVRI Badung I Made Sandi pun mengakui kalau warga masyarakat yang lahir beberapa tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, tidak lagi bisa menemukan bekas Tanggi Jepang di Hutan Baha.

Padahal, beberapa puluh tahun lalu, masih ada tersisa bekas-bekas pondasi bangunannya, namun tidak banyak orang yang ‘ngeh’. Made Sandi menyebutkan, lahan di bekas Tangsi Jepang tersebut dulunya milih Raja dari Puri Pemecutan Denpasar.

Ia mengungkapkan, karena diberlakukannya UU Agraria yang antara lain membatasi tentang kepemilikan tanah waktu itu, akhirnya sebagian lahan di Hutan Baha dibagi-bagikan kepada masyarakat setempat atau penyakap.

“Para Veteran Pejuang Kemerdekaan Badung, pernah ada pemikiran untuk dapat merpertahankan lahan eks Tangsi Jepang di Hutan Baha itu. Kami berpikir eks lahan tangsi dapat dipertahankan, karena memiliki nilai sejarah, penting bagi generasi muda,” kata Sandi.

Namun pemikiran atau ide mulia itu tidak sampai terwujud, lantaran lokasi bekas tangsi kini adalah milik perseorangan. “Semestinya kalau Pemkab Badung mau melakukan, pasti bisa. Mengingat nilai sejarahnya, walaupun sesungguhnya di Tangsi Jepang di Hutan Baha itu dulunya banyak terjadi¬† tindak kekerasan,” ucapnya.

Banyaknya kisah yang mengharukan bagi para pejuang yang tertangkap oleh tentara Jepang, nampaknya cukup memiliki nilai sejarah tersendiri bagi bangsa Indonesia. “Bayangkan, di tempat itu mereka diinterogasi, kemudian disiksa karena tidak mau mengatakan di mana para pemimpin pejuang berada. Dan tak pelak, beberapa dari mereka harus kehilangan nyawa,” ujar Sandi, mengisahkan.

“Pernah para pejuang merencanakan akan menyerbu Tangsi Jepang di Hutan Baha. Mereka menyiapkan strategi penyerbuan dari seluruh penjuru. Tujuannya untuk merebut senjata,” katanya. Tetapi, menurut Sandi, rencana penyerbuan yang sedianya dilakukan pukul 24.00 itu gagal, lantaran sudah tercium duluan oleh serdadu Dai Nippon.

Sandi sendiri yang warga asal Desa Baha, waktu SD sering melintas di depan Tangsi Jepang. Yakni ketika pergi dan pulang sekolah. “Saya dulu sekolah di Mengwi. Di sini (di Desa Baha Red-) belum ada SD dan sekolah lainnya. Saya PP jalan kaki. Setiap melintas di depan kawasan Hutan Baha yang terdapat Tangsi Jepang, kami selalu ketakutan,” cerita Sandi mengenang pengalaman pada masa pendudukan Jepang di Bumi Dewata.¬† (LE/Ima)

Lenteraesai.id