Karangasem, LenteraEsai.id – Nasib malang dialami oleh Ni Wayan Mundung (62) bersama dengan suaminya I Nyoman Gejer (67) dan satu anaknya yang kini masih bersekolah. Ketiganya harus bergelut dengan kemiskinan sampai saat ini. Mereka diketahui berasal dari Banjar Dinas Bau Kawan, Desa Nawa Kerti, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem.
Aktivitas keseharian dari Wayan Mundung dan suaminya tidaklah banyak, dikarenakan terbentur faktor usia dan juga penyakit yang dideritanya, yaitu benjolan-benjolan yang tumbuh di lututnya semacam tumor kulit. Di sisi lain, pasangan ini masih harus menanggung anaknya si bungsu, yang membutuhkan biaya bersekolah.
Sedangkan anak pasangan Mundung-Gejer yang sudah menikah, justru memilih tinggal berjauhan dengan orang tuanya. Alhasil, untuk menyambung hidup sehari-hari, mereka hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah berupa Program Keluarga Harapan (PKH) yang telah mereka terima selama ini.
Sebenarnya, baru-baru ini mereka juga pernah mendapat Bantuan Langsung Tunai (BLT), akan tapi bantuan tersebut justru menjadi masalah baru karena dianggap menyalahi aturan. Aturannya, warga yang sudah mendapatkan PKH tidak berhak lagi menerima BLT.
Celakanya, karena ketidaktahuan tersebut, uang BLT yang sudah pernah diterima oleh keluarga Wayan Mundung, sesuai aturan, kini harus dikembalikan.
“Oleh karena itu, kami sekeluarga harus keliling meminjam uang untuk mengembalikan ke desa. Sesungguhnya, jangankan mengembalikan uang BLT sebesar Rp1.200.000, untuk makan saja kami hanya ketela pohon dengan sayur jepang dan garam setiap hari,” kata Wayan Mundung, Sabtu (15/5) dengan wajah memelas.
Dikarenakan ada rasa takut PKH-nya nanti dicabut, maka keluarga ini berusaha meminjam uang di pura dadia dan kelompok untuk bisa mengembalikan uang BLT yang mereka sudah pakai tersebut. Lengkap sudah penderitaan Wayan Mundung bersama keluarganya.
“Saya sangat berharap ada yang bisa membantu kami untuk biaya hidup sehari-hari, karena kadang untuk air minum pun kami sangat susah untuk mendapatkannya, bahkan kami sering membeli air untuk minum,” kata Wayan Mundung, berharap.
Mendengar keadaan keluarga dari Wayan Mundung yang cukup memprihatinkan, membuat Yayasan Kita Peduli yang beralamat di Banjar Dinas Seloni, Desa Culik, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem datang berkunjung untuk memberikan bantuan berupa sembako.
“Karena saya merasa sangat sedih dan prihatin dengan keadaan keluarga tersebut kemudian saya unggah ke dalam grup WA ‘Membangun Karangasem’, yang mana grup WA ini saya buat dengan beranggotaan seratus orang termasuk Bapak Bupati dan Wakil Bupati Karangasem di dalamnya,” kata Ketua Yayasan Kita Peduli, I Ketut Suardana.
Dengan respon yang sangat cepat, akhirnya Wakil Bupati Karangasem I Wayan Artha Dipa berjanji akan melunasi seluruh hutang Wayan Mudung berupa harus mengembalikan uang BLT yang sempat diterimanya, dan kini telah habis dipakai bersama keluarga.
“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Wakil Bupati Karangasem I Wayan Artha Dipa, sehubungan beliau telah merespon cepat derita warga yang kini menetap di desa pinggiran itu,” kata Ketut Suardana.
“Ke depannya, pihak Yayasan Kita Peduli berencana mengadakan penggalangan dana untuk bisa membantu keluarga Wayan Mundung, terutama untuk biaya hidup sehari-hari. Mudahan berbagai kalangan nantinya dapat ikut ambil bagian, baik dari pemerintah maupun lembaga swasta dan yang lainnya,” kata Ketut Suardana, menandaskan. (LE-Jun)







