Buleleng, LenteraEsai.id – Kepala Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB) Drh Agus Ngurah Krisna Kepakisan MSi mengatakan, segala bentuk objek wisata di kawasan TNBB ditutup untuk umum sejak Virus Corona atau Covid-19 mulai menyebar ke seluruh dunia.
“Sepinya pengunjung, secara tidak langsung telah membuat populasi berbagai jenis satwa termasuk jalak bali perkembangannya meningkat tajam,” ujarnya baru-baru ini.
Menurut dia, peningkatan jumlah populasi beberapa jenis satwa di TNBB sebagian besar terjadi karena situasi sepi pengunjung. “Sekarang banyak sekali satwa berkeliaran di TNBB, ada menjangan yang cukup banyak, dan juga jalan bali, yang hingga bulan ini tercatat tinggi perkembangannya,” ujar Agus Krisna.
Ada dugaan, sepinya pengunjung tidak saja telah meningkatkan frekuensi kawin antarbinatang, tetapi juga dalam mengeram telur-telur bagi kawanan burung yang tidak lagi terganggu oleh lalu lalang pengunjung di kawasan.
Berdasar hasil pantauan, perkembangan jalak bali terus meningkat hingga mencapai 303 populasi. Peningkatan jalak bali bukan di alam liar saja, melainkan juga keberhasilan penangkaran yang dilakukan oleh 6 desa penyangga TNBB.
“Kesadaran masyarakat sudah sangat baik untuk melestarikan jalak bali melalui penangkaran, terbukti kini populasinya mencapai 303 ekor,” ujarnya.
Dia menambahkan, 6 desa penyangga tersebut adalah Desa Sumberklampok, Pejarakan, Blimbingsari, Ekasari, Melaya dan Gilimanuk.
Terkait siklus populasi jalak bali, dijelaskan pada tahun 2015 jumlahnya 75 ekor, tahun 2016 sebanyak 81 ekor, kemudian tahun 2017 meningkat menjadi 109 ekor, dan tahun 2019 sebanyak 256 ekor.
Disinggung terkait pemedek yang datang ke Pura Menjangan, Agus Krisna mengaku memberikan izin asalkan mematuhi protokol kesehatan. “Kami sudah bekerja sama dengan desa pakraman untuk aktivitas persembahyangan ke Pura Menjangan. Pemedek boleh menyeberang yang penting mematuhi protokol kesehatan,” ujarnya. (LE-BL)







