Denpasar, LenteraEsai.id – Kepala SMAN 7 Denpasar Cokorda Gde Anom Wiratmaja Spd MPd mengingatkan, sekarang ini tidak ada lagi sekolah favorit, melaikan semua sekolah adalah sama atau standar.
Sehubungan dengan itu, pemerintah menerapkan sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) sejak beberapa tahun terakhir, termasuk untuk SMA dan SMK negeri sederajat.
Di mana pendaftaran dilakukan secara online dan serempak sesuai jalur. Artinya calon siswa harus mendaftar pada sekolah terdekat dari tempat tinggalnya, sesuai zona yang telah ditetapkan.
“Orang tua calon siswa harus memberi pemahaman pada anak-anaknya tentang sistem PPDB itu. Yakni mengikuti zonasi, mendaftar pada sekolah terdekat dari tempat tinggal siswa yang bersangkutan,” kata Cok Gde Anom Wiratmaja dalam perbincangan dengan pewarta LenteraEsai (LE) pada Selasa siang, 15 Juni 2021, di kantornya Jalan Kamboja Denpasar, Bali.
Dikatakan Cok Anom, panggilan akrab Cokorda Gde Anom Wiratmaja, mendaftar sesuai ketentuan zonasi banyak keuntungan bagi calon siswa baru. Misalnya peluangnya diterima lebih besar, karena diprioritaskan.
Di samping itu juga sistem zonasi lebih berhemat biaya, lantaran sekolah dekat dengan tempat tinggal atau domisili para siswa. Orang tua juga tidak perlu repot lagi mengantar jemput putra-putrinya, ucapnya.
“Karena tidak ada sekolah favorit, kami sarankan calon siswa baru untuk mengikuti zonasi, supaya tidak terjadi penumpukan calon siswa di suatu sekolah tertentu, misalnya. Kuota di tiap sekolah negeri (SMA/SMK negeri) juga dibatasi. Masing-masing jalur sesuai ketentuan dari Kementerian Pendidikan,” katanya, menjelaskan.
Cok Anom yang menjabat Kepala SMAN 7 Denpasar per 1 Maret 2021 menyebutkan, sekolahnya pada PPDB tahun ajaran 2020/2021 kebagian 600 orang siswa (18 kelas). Jumlah itu tergolong gemuk. Kalau misalnya kembali diberlakukan pembelajaran tatap muka, pasti sesak.
Ia pun mengakui di kalangan calon siswa atau masyarakat, kini masih ada yang memberi label favorit pada sekolah-sekolah tertentu. Di Kota Denpasar misalnya, khususnya SMAN pilihan mereka biasanya SMAN 1, SMAN 3, SMAN 4 dan SMAN 7.
“Sebetulnya semua sekolah itu sama saja. Jangan ada dikotomi, antara sekolah yang satu dengan yang lainnya,” katanya, merendah.
Terkait pandemi Covid-19 yang masih belum usai sehingga belum memungkinkan dilakukannhya pembelajaran tatap muka, Cok Anom mengingatkan pentingnya peran orang tua di rumah. “Hendaknya para orang tua tetap mampu mengingatkan putra-putrinya untuk rajin mengikuti pembelajaran daring, yakni para siswa harus dapat melaksanakan tugas-tugas yang diberikan gurunya secara online,” katanya.
Walau Cok Anom baru sekitar tiga bulan memimpin SMAN 7 Denpasar, namun pihaknya bertekad terus meningkatkan kualitas pendidikan. Yakni dengan tim work yang solid, termasuk kerja sama yang baik dengan para stakeholder.
Sebelum jadi Kepala SMAN 7 Denpasar, Cok Anom adalah Wakasek SMAN 1 Denpasar. Pada 2011, pria dua anak kelahiran Klungkung ini, berhasil menjadi pemenang pemilihan guru berprestasi tingkat Provinsi Bali. Selain itu juga juara olimpade sain tingkat nasional 2013.
Pria yang dikenal trengginas itu juga sempat menjadi duta untuk giat pertukaran guru Indonesia-Australia ke Negeri Kanguru selama enam bulan. “Saya berusaha mempertahankan dan meningkatkan kualitas dan prestasi sekolah. Tentu dengan komitmen dan kerja keras tim yang ada,” ucapnya, menandaskan. (LE/Ima)







