judul gambar

Ketika Ketakutan Dijajakan: Hantu pun Punya QRIS

Ketika ketakutan dijajakan: hantu pun punya QRIS
Arsip - Warga berfoto dengan "Pocong" dari Komunitas Cosplayer Bandung, Jawa Barat, yang biasa beraksi di Jalan Asia Afrika dan Dr Ir Sukarno Kota Bandung, Sabtu (7/5/2022). (ANTARA/Ajat Sudrajat)

Jakarta, 05/12 (ANTARA) – Ketika pemerintah mendorong masyarakat menjadi lebih modern, publik menanggapinya dengan cara yang—tentu saja—tak pernah masuk dalam rencana siapapun. Hasilnya? “Hantu” pun turun ke jalan, lengkap dengan QRIS, seolah ikut lomba inovasi pelayanan publik.

Ada masa ketika ketakutan itu lahir dari sunyi: dari kisah yang dibisikkan nenek, dari lorong gelap, dari pantangan yang tak pernah benar-benar dijelaskan.

Bacaan Lainnya

Sekarang, ketakutan sudah berubah wujud: ia bukan lagi makhluk gaib yang bersemayam di alam lain, tetapi produk yang bisa ditemui di trotoar kota, bahkan dengan metode pembayaran non-tunai.

Fenomena para “hantu jalanan” di Bandung, itu contohnya. Dulu mereka berfungsi sebagai tokoh folklor yang menjaga batas moral masyarakat; sekarang mereka berfungsi, ya, sebagai konten dan penghibur visual dengan papan QRIS tergantung di dadanya.

Sejak pemerintah menggaungkan inklusi keuangan dan cashless society, medium digital menjadi semacam tolok ukur keberadaban baru.

Filsuf Kanada Herbert Marshall McLuhan pernah bilang, the medium is the message: medianya sendiri mengubah cara kita memahami dunia. Dan ketika QRIS menjadi medium paling dominan, ia tak hanya mengubah cara bayar, tetapi cara masyarakat mendefinisikan eksistensi.

Maka kemunculan “hantu yang menerima QRIS” bukan hanya bahan candaan, melainkan refleksi bahwa medium digital telah melampaui fungsi awalnya. Kini, sesuatu dianggap nyata, bukan karena bisa disentuh, tapi karena bisa dipindai. Hantu tak lagi menakutkan—yang menakutkan adalah jika ia tidak punya kode pembayaran.

Hantu-hantu di Jalan Asia Afrika Kota Bandung, beroperasi dalam beragam wujud. Yang satu matanya buta, yang satu berdarah palsu sedemikian rupa, yang satu bergaya kuntilanak premium. Dan semuanya kompak: menerima donasi digital. Tidak ada lagi minta “seikhlasnya”. Sekarang, setan saja sudah ikut sistem perbankan modern.

Aneh? Tentu. Tapi juga sangat Indonesia. Kita ini bangsa yang tampaknya punya bakat alami untuk menyulap segala hal menjadi tontonan, termasuk rasa takut.

Industri menakut-nakuti, sebenarnya bukan hal baru; taman hiburan horor, rumah hantu dadakan menjelang Halloween ala lokal, wisata mistis di gedung kosong, itu semua sudah lama.

Tapi kemunculan hantu-hantu pekerja lepas di pinggir jalan menandai babak baru: ketakutan kini tidak lagi menunggu dikunjungi. Ia aktif menjemput pasar.

Dan pasar itu, rupanya, tidak kecil. Para pengendara melambat, menyalakan kamera, tertawa, menghibur diri, lalu pindai QRIS, seakan sedang menghargai performa sebuah seni pertunjukan.

Dalam suasana ekonomi yang serba sulit, bahkan hantu pun harus kreatif. Sebab, apalagi yang tersisa dari hal mistis, ketika dunia nyata sudah jauh lebih menyeramkan? Harga kebutuhan pokok naik, persaingan kerja sengit, berita politik bikin kepala panas, maka ketakutan fiksi terasa justru lebih ramah, lebih jinak, lebih bisa dinegosiasikan.

Itu mungkin inti persoalannya: ketika hidup makin rumit, orang justru mencari hiburan pada hal-hal absurd. Hantu-hantu QRIS itu hanyalah cerminan betapa ketakutan bukan lagi sesuatu yang dihindari, melainkan dijual, dibungkus, dan dikemas manis agar layak menjadi hiburan pinggir jalan.

 

Komoditas ketakutan 

Kalau dipikir-pikir, kita hidup di era ketika segala hal bisa diproduksi ulang, dikemas ulang, dijual ulang. Rasa takut pun tidak luput dari proses industrialisasi itu.

Ketakutan yang dulu lahir dari keyakinan, mitos, atau imajinasi kolektif, kini diperlakukan layaknya bahan baku industri kreatif: bisa dipoles, dipotong, dipasarkan, disesuaikan dengan selera konsumen.

Namun ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar hiburan pinggir jalan. Hantu-hantu QRIS itu sebenarnya adalah tanda bahwa ekonomi informal Indonesia sedang mencari bentuk baru.

Ketika peluang kerja makin sempit, batas antara profesi, cosplay, seni pertunjukan, dan mode bertahan hidup makin kabur, yang tersisa hanyalah kreativitas tingkat jalanan, dan ketakutan, kebetulan bahan yang murah, familier, dan gampang dieksploitasi.

Masyarakat pun merespons dengan caranya sendiri. Mereka tidak takut; mereka justru menikmati absurditasnya.

Ada sesuatu yang melegakan ketika melihat makhluk seram hanya sebatas pekerja lepas pengguna QRIS, bukan entitas gaib yang mengintai dari alam lain.

Ini semacam redefinisi horor: dari sesuatu yang menindas imajinasi menjadi sesuatu yang bisa dikontrol, bahkan ditertawakan.

Ketakutan berubah menjadi komoditas yang aman—tak akan mengganggu tidurmu, tapi cukup mengganggu rasa ingin tahumu.

Di balik itu semua, ada pula kebutuhan masyarakat akan sensasi. Dunia digital telah membuat kita terbiasa dengan kejutan visual, konten ekstrem, dan stimulasi cepat.

Maka, munculnya hantu-hantu pencari nafkah hanyalah adaptasi: ketakutan harus tampil lebih atraktif, lebih Instagrammable, lebih layak unggah agar mendapat perhatian dan donasi.

Ini juga menyentuh ranah spiritual masyarakat kota. Ketika kehidupan modern terasa datar dan mekanis, orang mendambakan hal-hal yang tak masuk akal—meski yang muncul hanyalah hantu palsu dengan riasan toko kosmetik murah.

Ada kerinduan akan kejutan, misteri, sesuatu yang tak bisa dijelaskan logika. Tapi karena dunia nyata semakin menuntut efisiensi, misteri pun akhirnya dikompromikan: cukup 10 menit berhenti di lampu merah, selfie, transfer 5.000, lalu lanjut hidup.

Ketakutan kehilangan sakralitasnya. Yang tersisa hanyalah hiburan cepat saji—lebih mirip camilan visual, ketimbang sesuatu yang mengguncang batin.

 

Kehilangan taring

Di fase ini, kita menyaksikan sesuatu yang ganjil, tapi menarik: ketakutan tak lagi menakutkan. Ia berubah menjadi dekorasi budaya pop, seperti lampu kelap-kelip di balkon rumah, hadir bukan untuk menegur, tapi menghibur.

Hantu-hantu yang dulu ditakuti karena dianggap mengemban pesan moral, jangan pulang malam, jangan sembarangan, jangan nakal, kini menegur kita dengan QRIS: “Kak, seratus ribu juga boleh”.

Kita jadi bertanya: Apakah masyarakat sedang menertawakan horor, atau menertawakan hidup mereka sendiri?

Kita berada dalam dunia yang bergerak cepat, melelahkan, dan sarat kecemasan: harga naik, kerja tak menentu, tuntutan sosial makin bertumpuk-tumpuk. Mungkin karena itu kita butuh komedi versi gelap agar bisa tetap tertawa, meski situasi hidup sering terasa “tidak lucu”.

Hantu-hantu jalanan itu, tanpa mereka sadari, mengisi kekosongan itu: mereka menjadi simbol dari kecemasan yang dijinakkan, disulap menjadi tontonan yang ringan dan fotogenik.

Yang menarik, industri ketakutan versi jalanan ini bukan sekadar hiburan; ia juga semacam cermin sosial. Ia menunjukkan betapa gampangnya masyarakat kita menerima hal absurd selama dibungkus kreativitas. Lupakan keaslian, lupakan nilai historis; yang penting viralitas.

Hantu-hantu palsu ini menjadi maskot baru budaya konten yang serba instan: tak perlu narasi panjang, tak perlu riset mendalam—cukup muncul, tampil ekstrem, dan pastikan ada QRIS.

Namun di balik kelucuan itu, ada ironi yang tak bisa diabaikan. Tradisi horor yang dulu dihubungkan dengan spiritualitas, alam, leluhur, pelan-pelan tercerabut dari akarnya dan berubah menjadi komoditas jalanan.

Ketakutan menjadi sekadar efek visual, bukan pengalaman batin. Semua dipermudah, dipersingkat, dipermak agar sesuai selera zaman yang menuntut kecepatan di segala lini.

Dan ketika ketakutan sudah dikebiri sampai tahap ini, kita pun akhirnya sadar: Yang lebih menakutkan dari hantu-hantu itu bukanlah riasannya, tapi kenyataan bahwa hidup modern kita jauh lebih horor dibandingkan makhluk-makhluk yang berusaha menakut-nakuti kita.

Jika ketakutan saja bisa dijajakan, jangan-jangan yang tersisa tinggal diri kita—yang terus berjalan, sambil membawa kecemasan masing-masing, berharap bisa menertawakannya, sebelum kecemasan itu menelan kita bulat-bulat.

Oleh Sizuka
Editor : Masuki M Astro

Pos terkait