Bukan Omon-omon: Gungnik Bergerak Jauh Sebelum Sampah Jadi Krisis

Gungnik
Pelopor Yayasan Tukad Bindu sekaligus pendiri komunitas lingkungan Gila Selingkuh I Gusti Rai Ari Temaja (Gungnik) - (Foto: Dok LenteraEsai)

Denpasar, LenteraEsai.id – Tatkala banyak orang mendadak gaduh soal sampah, pelopor Yayasan Tukad Bindu sekaligus pendiri komunitas lingkungan Gila Selingkuh I Gusti Rai Ari Temaja memilih untuk tetap bersikap tenang. Bukan tak peduli, dikarenakan ia sudah bergerak jauh sebelum isu ini meledak.

“Sekarang orang mulai ribut soal sampah, sedang saya sudah bergerak dari bertahun-tahun lalu,” ujar pria yang akrab disapa Gungnik dengan lugas, ketika ditemui Media LenteraEsai, di tepi Tukad Bindu, Denpasar, Senin (1/4/2026).

Bacaan Lainnya

Ketertarikannya pada isu lingkungan bukan sesuatu yang tiba-tiba. Baginya, alasan paling sederhana justru yang paling mendasar: siapa yang tidak ingin hidup di lingkungan yang bersih?

Namun dari kesederhanaan itulah, lahir sebuah prinsip hidup yang kuat—bahwa kepedulian tidak boleh menunggu bencana. Ia mempertanyakan kebiasaan banyak orang yang baru bergerak, ketika masalah sudah terjadi.

“Kenapa kita harus menunggu musibah dulu baru berbuat?” katanya.

Prinsip itulah yang kemudian melahirkan sebuah gerakan nyata. Jauh sebelum isu sampah menjadi ramai diperbincangkan, ia sudah memulai aksi penyelamatan lingkungan dan sumber daya air. Bukan sekadar wacana, melainkan langkah konkret yang terus ia jalankan dengan konsisten.

Salah satu wujud nyatanya adalah Tukad Bindu—sebuah kawasan yang kini dikenal sebagai ruang publik yang bersih, asri, dan hidup. Namun siapa sangka, dulu tempat ini hanyalah sungai yang kurang terawat dan jauh dari perhatian.

Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam.

Gungnik memulai semuanya dari lingkaran terdekatnya. Ia mengajak teman-teman di sekitarnya untuk memiliki kesepahaman yang sama tentang pentingnya menjaga lingkungan, terutama dalam mengelola sampah. Baginya, perubahan besar tidak dimulai dari hal yang besar, melainkan dari langkah kecil yang konsisten.

Ia mengibaratkan proses itu seperti pepatah lama: jika baru mampu melompati parit, jangan memaksakan diri melompati sungai.

Dari prinsip sederhana itu, ia memilih fokus pada lingkungan sendiri terlebih dahulu. Bersama warga di Banjar Ujung dan empat banjar di sekitar Tukad Bindu, ia membangun kesepahaman dan kesepakatan bersama. Mereka tidak hanya diajak untuk berpartisipasi, tetapi lebih dulu diajak memahami nilai.

Karena bagi Gungnik, partisipasi tidak bisa dipaksakan. Semua harus dimulai dari nilai. Nilai melahirkan ketertarikan, lalu berkembang menjadi keterkaitan. Dari situ tumbuh keterikatan, yang kemudian membuka jalan bagi kolaborasi. Dan pada akhirnya, partisipasi hadir sebagai kesadaran, bukan kewajiban.

“Inilah yang menjadi dasar untuk menggerakkan masyarakat,” jelasnya.

Dalam konteks sampah, ia menekankan bahwa sampah pun harus memiliki nilai. Bukan sekadar sesuatu yang dibuang, tetapi sesuatu yang dimaknai.

Nilai itu hadir dalam bentuk lingkungan yang bersih, aman, dan nyaman. Lingkungan yang membuat setiap orang bisa tersenyum—baik saat keluar rumah maupun saat kembali pulang. Di Banjar Ujung, kondisi ini dikenal dengan istilah Lebuh Mekenyem.

Sebuah gambaran sederhana tentang kebahagiaan yang lahir dari lingkungan yang lestari.

Karena itu pula, Gungnik tidak tertarik ikut dalam riuhnya perdebatan soal sampah. Baginya, yang terpenting bukanlah siapa yang paling keras bersuara, tetapi siapa yang benar-benar mengambil tindakan.

Ia bahkan menilai, program-program pemerintah sebenarnya sudah cukup baik. Tantangannya justru ada pada pola pikir masyarakat yang selama ini terbiasa dilayani.

“Sistem lama kita itu sederhana: buang, diangkut, lalu selesai. Sekarang ketika ada perubahan, kita merasa tidak dilayani,” ujarnya.

Padahal, menurutnya, tanggung jawab terhadap sampah seharusnya tidak sepenuhnya dibebankan kepada pihak lain. Kesadaran itulah yang mestinya dibangun sendiri.

Berangkat dari kondisi Kota Denpasar yang memiliki keterbatasan ruang publik, ia melihat sungai sebagai potensi yang bisa dihidupkan. Dengan pendekatan yang tepat, sungai bukan hanya bisa dijaga, tetapi juga dimanfaatkan sebagai ruang sosial dan ekonomi.

Hari ini, ujar Gungnik, perubahan itu nyata. Sepanjang jalur Tukad Bindu, berbagai aktivitas tumbuh. Coffee shop bermunculan, warga dan wisatawan datang untuk bersantai, dan kawasan yang dulu diabaikan kini menjadi destinasi.

Semua berawal dari satu hal: kemauan untuk melihat potensi dan bertindak.

“Di mana ada potensi, tinggal kita mau berbuat atau tidak,” katanya.

Namun di balik semua capaian itu, pesan yang ia bawa tetap sederhana. Solusi dari persoalan sampah bukan terletak pada siapa yang paling banyak berbicara, melainkan pada kemauan untuk menyikapi dengan bijak.

Masalah sampah di Bali, menurutnya, tidak akan pernah selesai jika hanya mengandalkan pemerintah atau pihak tertentu. Ini adalah kerja bersama, yang harus dimulai dari kesadaran masing-masing individu.

Dan langkah paling konkret, sesungguhnya sangat dekat: dari rumah sendiri.

Ia mengajak masyarakat untuk mulai mengubah kebiasaan. Dari yang sebelumnya membuang sampah sembarangan, menjadi bertanggung jawab atas apa yang dihasilkan. Memilah sampah sejak dari sumbernya, serta memastikan hanya residu yang benar-benar tidak bisa diolah yang dibuang ke tempat akhir.

“Restorasi mindset adalah hal utama,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa sampah adalah hasil dari aktivitas manusia. Maka sudah seharusnya manusia pula yang bertanggung jawab untuk menyelesaikannya.

Jika tidak mampu mengelola sendiri, barulah bantuan pihak lain menjadi pilihan. Namun bukan berarti ketergantungan menjadi kebiasaan.

Lebih jauh lagi, Gungnik mengingatkan bahwa upaya menjaga lingkungan bukan semata tentang menyelamatkan alam.

Karena sesungguhnya, alam tidak membutuhkan manusia untuk diselamatkan.

Sebaliknya, manusialah yang membutuhkan alam untuk tetap lestari.

“Kita ini hanya numpang hidup di bumi,” ujarnya. “Jangan merasa paling berkuasa.”

Dari Tukad Bindu, sebuah pelajaran sederhana namun mendalam terus mengalir: perubahan tidak pernah menunggu waktu yang tepat. Ia lahir dari keberanian untuk memulai, sekecil apa pun langkahnya.

Dan mungkin, seperti yang telah dibuktikan Gungnik, dunia yang lebih bersih dan lestari tidak dimulai dari suara yang paling keras—melainkan dari tindakan yang paling nyata. (LE-Vivi)

Pos terkait