Wamentan Ungkap Sejumlah Negara Incar Pupuk RI Imbas Krisis Geopolitik

Wamentan ungkap sejumlah negara incar pupuk RI imbas krisis geopolitik
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono diwawancarai awak media terkait pasokan pupuk di sela Konferensi Pupuk Asia 2026 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Rabu (1/4/2026). ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

Nusa Dua, LenteraEsai.id – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengungkapkan sejumlah negara kini mengincar pupuk dari Indonesia sebagai imbas krisis geopolitik di Timur Tengah yang memicu gangguan suplai urea dunia.

“Mereka mau impor pupuk dari Indonesia, berapapun dia bayar,” kata Wamentan di sela Konferensi Pupuk Asia 2026 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Rabu.

Bacaan Lainnya

Wamentan mengungkapkan ada enam negara yang ingin impor pupuk dari Indonesia itu di antaranya India, Brasil, Australia, dan Filipina.

Konflik di Timur Tengah berimbas terhadap terganggunya jalur perdagangan global di Selat Hormuz termasuk pasokan pupuk yang sekitar 30 persen pupuk dunia melewati jalur vital tersebut.

Akibatnya terjadi kenaikan harga signifikan misalnya untuk harga pupuk urea berdasarkan data Trading Economics yang diakses pada Rabu (1/4/2026) pukul 13.00 WITA, harga urea per ton menyentuh 690 dolar AS, melonjak dari awal Januari 2026 kisaran 350-380 dolar AS.

Sudaryono menjelaskan Indonesia berpotensi besar untuk menjadi stabilisator pasokan pupuk dunia di tengah krisis geopolitik itu setelah pemerintah memastikan kebutuhan pupuk untuk pertanian di dalam negeri mencukupi.

“Saat krisis (geopolitik), untuk urusan pupuk itu aman, kebutuhan (dalam negeri) urea bisa kami penuhi,” ucapnya.

Untuk itu, ia mengajak para petani untuk tidak khawatir terkait pasokan pupuk di dalam negeri karena krisis geopolitik itu tidak mempengaruhi suplai di tanah air.

Menurut dia, saat ini kapasitas produksi pupuk di Indonesia mencapai sekitar 14,5 juta hingga 15 juta ton per tahun.

Adapun BUMN PT Pupuk Indonesia menjadi salah satu produsen pupuk terbesar di dalam negeri dan ikut berkontribusi menyuplai pasar global.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menjelaskan pihaknya rata-rata per tahun mengekspor 1,5 juta hingga dua juta ton.

Perusahaan pelat merah itu mencatat total produksi pupuk urea misalnya mencapai 9,4 juta ton per tahun dengan rata-rata kebutuhan dalam negeri mencapai sekitar tujuh juta ton.

Dengan realisasi itu, ia memastikan kebutuhan dalam negeri untuk urea aman sehingga berpotensi untuk mengisi pasar ekspor.

Selain urea, pihaknya juga memproduksi pupuk nitrogen, fosfat dan kalium (NPK) rata-rata per tahun mencapai 4,6 juta, dan pupuk lainnya 0,8 juta ton per tahun.

Adapun negara-negara yang menjadi mitra tujuan ekspor korporasi itu yakni Filipina, Jepang, Amerika Serikat, Korea Selatan, Australia, Meksiko, China, Thailand, India, Vietnam dan negara-negara di Asia Pasifik, Timur Tengah dan Afrika. (LE)

Source: ANTARA

Pos terkait