Denpasar, LenteraEsai.id – Pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali membina komunitas setempat untuk mengolah sampah organik diproduksi menjadi ekoenzim yang digunakan untuk pupuk cair alami.
“Kami menyediakan ruang dan fasilitas bagi Komunitas Angen untuk terus berinovasi,” kata Kepala Departemen Komunikasi Bali Turtle Island Development (BTID) selaku pengelola KEK Kura Kura Bali Zefri Alfaruqy di Denpasar, Bali, Selasa.
Komunitas Angen yang berada di kawasan Kura Kura Bali telah memproses sekitar 150 galon dengan kapasitas 15 liter per galon dan satu drum berkapasitas 100 liter ekoenzim.
Rencananya, produksi ekoenzim ditargetkan mencapai dua hingga lima ton sehingga diharapkan berkontribusi menanggulangi sampah organik dari sumber.
Sejak akhir Desember 2025, komunitas itu telah mengolah limbah buah-buahan yang dikumpulkan dari warung kuliner dan sarana upakara yang ada di Desa Serangan.
Pembina Komunitas Angen I Wayan Patut menjelaskan proses pembuatan cairan fermentasi itu dilakukan selama tiga bulan.
Ia menjelaskan proses pembuatan ekoenzim diawali dengan mengumpulkan limbah buah-buahan, yang kemudian dicacah, dan selanjutnya difermentasi dalam galon air bekas.
Tidak hanya memanfaatkan limbah buah-buahan, komunitas tersebut juga menambahkan bunga lokal untuk memberikan aroma alami pada produk yang dihasilkan.
“Kami mencampurkan bunga kenanga dan bunga kantil agar saat proses fermentasi aromanya harum dan segar, tidak meninggalkan kesan bau sampah. Semuanya murni menggunakan bahan organik tanpa tambahan zat kimia,” kata I Wayan Patut.
Ia mengatakan ampas hasil penyaringan ekoenzim yang telah difermentasi selama tiga bulan tetap memiliki manfaat bagi lingkungan karena mampu mempercepat proses pembuatan kompos dan mencegah lalat.
Ampas juga bisa langsung ditaburkan ke tanaman sebagai pupuk padat alami.
“Dengan inovasi ini kami berharap tumbuhnya kesadaran dimulai dari setiap rumah tangga yang pelan-pelan terbiasa memilah dan memilih sampah mereka sendiri,” ucapnya. (LE)
Source: ANTARA







