BadungHeadlines

Warga Merinding, Air Kerincing di Tegalan Batukurung Konon Dihuni Wong Samar

Badung, LenteraEsai.id – Keberadaan pancuran suci dan air yang ‘meresbes’ dari tebing di kawasan tegalan Batukurung, Banjar Jempeng, Desa Taman, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali belum banyak dikenal masyarakat luas.

Tetapi di kalangan masyarakat sekitar sudah lumrah bahwa pancuran yang sumber airnya dari sebuah mata air yang dihubungkan goa (terowongan) berdiameter kurang lebih satu meter itu, adalah pancuran yang disucikan.

Air pancuran sangat bening dan tidak pernah putus atau mengering, walau pada musim kemarau panjang sekalipun. Banyak warga masyarakat yang masih menggunakan air Pancuran Batukurung untuk kebutuhan air minum. Di pancuran itu tiap hari juga masih ada penduduk yang mandi dan mencuci. Airnya memang bening, bersih dan sejuk.

Menariknya, walaupun lokasinya tergolong cukup sulit untuk dapat dijangkau, tapi penduduk lebih banyak memamfaatkan air pancuran itu untuk kebutuhan air minum. Tidak sedikit warga yang mengaku tidak biasa minum air yang tidak berasal dari pancuran di Batukurung.

Drs Made Tantra dari Banjar Sukajati, Desa Taman, Kabupaten Badung mengatakan pernah diceritakan kakeknya dulu. Bahwa Pancuran Batukurung dibuat tokoh dari Puri Selat, Desa Selat, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung. Di mana waktu itu tokoh tersebut menjadi Punggawa Blahkiuh, tetapi tinggal di Batukurung, karena memiliki lahan kering (tegal) di kawasan itu.

“Mata air itu lokasinya di tegalan kami. Karena mau ditata menjadi permandian oleh tokoh Puri Selat, maka diadakan pembicaraan dan perjanjian. Kemudian dibuat pancuran,” kata Made Tantra menjawab pewarta LenteraEsai (LE) belum lama ini.

Ditambahkan Bendesa Adat Taman itu, pancuran yang airnya jernih itu, selain digunakan tokoh puri, juga dimanfaatkan masyarakat sekitar. Baik untuk mengambil air minum, maupun mandi dan cuci sampai sekarang.
Made Tantra yang sempat menjabat Kelian Dinas Sukajati, Desa Taman menjelaskan, lokasi Pancuran Batukurung beberapa kali mendapat bantuan penataan dari pemerintah. Jalan dibuat berundak-undak, pancuran diperbaiki, juga dibangun pelinggih. 

Beberapa tahun terakhir malah PDAM Badung memanfaatkan sumber air itu untuk dikelola dan dijual ke konsumen. Tetapi tidak sampai mematikan keberadaan pancuran karena debit airnya cukup besar.

Air Kerincing

Di kawasan tegalan Batukurung, selain terdapat air pancuran yang masih dimanfaatkan masyarakat, juga terdapat mata air yang ‘meresbes’ dari bagian tebing yang disebut Air Kerincing.

Lokasinya arah tenggara dari lokasi pancuran, kurang lebih 200 meter. Tempat Air Kerincing dari tebing di sela-sela pangkung. Tempat ini menurut masyarakat setempat, diyakini tenget (angker). Dihuni wong samar, tonya, memedi dan mahluk-mahluk tidak kasat mata lainnya.

“Di lokasi Air Krincing terdapat Gria (rumah) Wong Samar. Maka aura tempat itu sangat mistis dan angker. Cuma orang-orang tertentu yang bisa melihat,” papar seorang warga setempat.

Pewarta LE diingatkan, kalau pergi ke lokasi itu harus berhati-hati. Dan jangan lupa minta izin. Jaga ucapan dan jangan merusak dan menebang pepohonan, membunuh binatang dan sebagainya. Karena pernah ada rombongan pemburu yang celaka malam-malam.

Disebut Air Kerincing, lantaran suara aliran air di tempat gemerincing. Di lokasi itu juga ada telaga tua yang airnya tidak pernah kering. Akses ke lokasi medannya berat, terjal dan licin. Belakangan dibuat undak-undak.
“Saya dulu sering mancing ke situ (Air Kerincing Red), airnya memang beda. Bulu kuduk dibikin bergidik. Kalau sudah begitu, saya cepat-cepat pulang. Yakin tidak akan dapat ikan,” cerita Made Tantra.  (LE/Ima)

Lenteraesai.id