Sejarah Pura Dalem Majapahit Tohpati Badung Masih Misterius

Badung, LenteraEsai.id – Pura Dalem Majapahit yang terletak di Banjar Tohpati, Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, tergolong sebuah tempat peribadatan yang cukup tua bagi umat Hindu di Bali.

Banyak warga yang melintas di daerah itu yang tertarik dengan nama Pura Dalem Majapahit, seolah mengenang sebuah nama besar kerajaan yang sempat berjaya di Tanah Jawa bahkan di Nusantara, yakni Majapahit.

Bacaan Lainnya

Tidak sedikit orang yang tiba-tiba harus menjeprat-jepretkan kameranya jika kebetulan lewat di depan pura yang lengkap dengan papan namanya bertuliskan Dalem Majapahit.

Betapa tidak, nama Majapahit, terutama di masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dengan Maha Patih Gajahmada, begitu besar dengan keberhasilannya menaklukkan dan mempersatukan kerajaan-kerajaan besar di Nusantara.

Namun demikian, kerajaan yang juga sohor dan dikagumi sampai ke Negeri Malaka, akhirnya perlahan jatuh dan sirna pada tahun 1520, seiring dengan gencarkan invasi dan dominasi kerajaan-kerajaan Islam di Tanah Jawa.

Pewarta LenteraEsai.id yang mencoba menelusuri keberadaan pura tersebut akhir pekan lalu, akhirnya bertemu dengan I Ketut Tama, kelian Pemaksan Pura Dalam Majapahit Tohpati di Desa Bongkasa.

Sambil duduk ngobrol-ngobrol di Balai Delod rumah kediaman Ketut Tama yang tidak jauh dari lokasi pura, jro kelian tersebut kemudian berceritera tentang berbagai hal, mulai dari jumlah pemaksan selaku pengempon, sampai tegak odalan bagi pura tersebut.

Namun demikian, ketika ditanyakan tentang riwayat atau sejarah Pura Dalem Majapahit Tohpati, Ketut Tama dengan polos dan jujur mengatakan tidak tahu. “Saya belum menemukan sumber-sumber tertulis tentang riwayat pura ini. Demikian pula belum pernah mendengar dari penyampaian para pengelingsir sebelumnya,” katanya.

“Ampura tiang ten uning indik sejarah Pura Dalem Majapahit sane wenten deriki. (Maaf saya tidak mengetahui sejarah Pura Dalem Majapahit di sini),” ujar Ketut Tama, apa adanya.

Ketut Tama menyebutkan, dirinya dengan para pemaksan lain di Pura Dalem Majapahit Tohpati, selama ini hanya namiang (mewarisi), nyungsug dan memelihara keberadaan pura secara turun-temurun.

“Jadi tiang hanya menyunggung. Belum pernah ada yang menanyakan atau pernah menjelaskan tentang asal usul pura,” ujarnya seraya mengakui bahwa ke depannya perlu ada penelusuran soal asal usul tersebut, karena tidak menutup kemungkinan pada suatu saat akan muncul pertanyaan dari generasi muda selaku penerus penyungsung pura.

Mengenai pemaksan pura, kata Ketut Tama, terdiri atas beberapa banjar, yakni Banjar Tohpati, Desa Bongkasa, dan Banjar Semana, Desa Mambal, juga ada dari Desa Adat Bongkasa.

Piodalan di pura dilaksanakan pada Saniscara Kliwon Wariga (Tumpek Wariga). Selain Pura Dalem Majapahit, di Banjar Tohpati juga ada Pura Dalem Kahyangan (bagian dari Kahyangan Tiga, Red).

Seperti pada umumnya, palebahan (areal) pura dibagi tiga, nista mandala (jaba), madya mandala (jaba tengah) dan utama mandala (jeroan). Adapun pelinggih-pelinggih yang terdapat di Pura Dalem Majapahit, seperti yang dijelaskan Kelian Pemaksan Ketut Tama, yakni di nista mandala terdapat candi bentar, kuri agung, apit lawang dan sebagainya.

Di madya mandala meliputi bale gong, bale lantang, dan pajenengan Ratu Gede Agung. Sedangkan di utama mandala terdapat pelinggih Ratu Sedahan lan Ratu Alit, Padmasana, Dalem Segara, Gedong Sari, Ratu Ngurah dan lain-lain. (LE/Ima)

Pos terkait