DenpasarHeadlines

PHDI: Upacara Pitra Yadnya Siwa Sumedang, Ngaben Sederhana Tanpa Kurangi Makna

Denpasar, LenteraEsai.id – Dalam prasasti-prasasti di Bali sering dijumpai tentang Upacara Pitra Yadnya yang terpenting adalah upacara pembakaran mayat, yang meliputi ‘Bhasma dan Craddha’ atau memukur. Kedua upacara ini sudah dilaksanakan sejak zaman prasejarah.

Tujuan Ngaben itu sendiri adalah agar badan wadag segera kembali ke unsur panca maha bhuta (jadi abu) dan Ngaben membebaskan ptreta menjdi pitri atau pitara dengan wujud Ativahika sarira (teja, vayu dan ether) sebagai badan atma alam sunya.

Dalam melaksanakan upacara yadnya baik itu pitra yadnya, maupun yadnya lainnya, hendaknya didasarkan dengan hati yang tulus dan ikhlas, dan menyesuaikan dengan kemampuan ekonomi, agar tidak ada kesulitan yang dirasakan pada saat melaksanakan yadnya.

Jadi hal inilah yang ingin ditekankan dalam Seminar dan Lokakarya Nasional yang mengusung tema  ‘Upacara Pitra Yadnya Siwa Sumedang’ yang bertempat di Aula Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, Jalan Ratna Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali, Sabtu (7/3/2020).

Pada seminar ini menghadirkan narasumber antara lain Dharma Adiyaksa PHDI Pusat Ida Pedanda Nabe Bang Buruan Manuabe, Ketua Saba Walaka PHDI Bali Dr Made Suasti Puja, dan seorang Sulinggih Ida Pandita Mpu Nabe Abra Baskara Mukti Biru Daksa. Selain itu nampak hadir juga mantan Gubernur Bali yang kini menjabat sebagai anggota DPD RI yakni I Made Mangku Pastika dan Ketua PHDI Bali Prof Dr Drs I Gusti Ngurah Sudiana.

Seminar dan lokakarya yang digelar oleh Yayasan Veda Posanam Ashram Suarga Shanti itu dihadiri sebanyak 285 peserta yang terdiri atas 73 Sulinggih dan 212 Pinandita dan Walaka.

Seminar ini sekaligus memperkenalkan kepada umat Hindu mengenai Upacara Pitra Yadnya Siwa Sumedang, yang mana merupakan salah satu upacara pengabenan yang disebut-sebut dapat dilaksanakan dengan sederhana. Upacara Pitra Yadnya Siwa Sumedang memiliki arti Siwa yang gaib.

Bardasarkan pemaparan Ida Pandita Mpu Nabe Abra Baskara Mukti Biru Daksa, jika disimak dengan seksama, maka akan diperoleh kesimpulan bahwa begitu mulianya Upacara Pitra Yadnya Siwa Sumedang, karena disebutkan ada keterlibatan Dewa Siwa untuk langsung menggaibkan Sang Inupakara ke Siwa Loka (ring Madya), dengan cara yang sederhana (tanpa wadah, tanpa Patulangan, tanpa Damarkurung atau lampu kurung, ngelanus puput ring setra), dan ini sangatlah fleksibel (manistha, madya, utama), dan sangat tepat untuk dilaksanakan oleh berbagai lapisan masyarakat yang sangat majemuk dewasa ini. 

Menanggapi hal tersebut, I Gusti  Ngurah Sudiana mengatakan, “Itu sebabnya pengabenan seperti ini kalau kita cari perjalanannya, pembagian pengabenan jika berdasarkan keputusan Parisadha tahun 1968, merupakan tingkatan kanista (tingkatan paling rendah).”  

Menurutnya, tingkatan terendah ini bukan berarti tingkatan yang paling jelek. Kanista ini artinya sederhana. Sama seperti halnya upacara tingkatan yang paling utama, hanya saja banten, jalannya upacara atau waktu yang dihabiskan jauh lebih singkat.

Dalam melaksanakan upacara pengabenan harus berdasakan dengan hati yang ikhlas tanpa adanya paksaan. Dan ke depannya Upacara Pitra Yadnya Siwa Sumedang dapat dijadikan pedoman bagi umat Hindu. Bahkan, Ngurah Sudiana mengatakan bahwa Upacara Pitra Yadnya Siwa Sumedang dapat dilaksanakan secara massal.

Maka dari itu, Umat Hindu yang ada di Bali diharapkan dapat memilih yang terbaik dan sederhana. Nantinya apabila Upacara Siwa Sumedang ini sudah menjadi keputusan Parisadha, dapat menjadi alternatif oleh umat Hindu untuk menjalankan upacara ngaben tersebut.

Ngurah Sudiana menyebutkan bahwa Upacara Pitra Yadnya Siwa Sumedang sama sekali tidak mengurangi tatwa, susila, maupun acara yang sudah berjalan di pengabenan yang lainnya.

“Maknanya sama tetapi hanya berbeda sedikit pada banten, waktu, penutup, dan masalah upacara lainnya,” ujar Ketua PHDI Bali, menjelaskan. (LE-Tia)

Comment

Comment here

Lenteraesai.id