judul gambar
HeadlinesNasional

Atasi Permasalahan UMKM, Kopitu dan BRIN Tandatangani MoU

Jakarta, LenteraEsai.id – Komite Pengusaha Mikro Kecil Menengah Indonesia Bersatu (Kopitu) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menandatangani MoU dalam rangka mewujudkan kerja sama riset, inovasi dan hilirisasi baik bidang hayati dan lingkungan maupun bidang pertanian (teknologi pascapanen) dan pangan termasuk pengolahan sampah dengan teknologi RDF

Ketua Umum Kopitu Yoyok Pitoyo didampingi para wakil ketua umum pengurus DPP Pusat dan perwakilan DPW dan DPD Kopitu hadir di Kantor BRIN di Jakarta, pada Rabu (29/6).

Hendrian selaku Plt Deputi Pemanfaatan Riset & Inovasi BRIN didampingi Dadan Nugroho selaku Direktur Pemanfaatan Riset & Inovasi Kementerian/ Lembaga Masyarakat, Usaha Mikro, Kecil & Menengah BRIN beserta jajaran, menyambut hangat kedatangan Kopitu.

Kerja sama ini berfokus pada 5 poin yang terdiri dari Research & Development produk Food and Beverage UMKM; Teknologi RDF pengolahan sampah; Teknologi Kemasan UKM; Teknologi pascapanen supaya bertahan lama; dan Teknologi radiasi sinar gama.

Salah satu poin terkait teknologi kemasan, BRIN mengembangkan produk kemasan yang dapat menyimpan makanan tanpa bahan pengawet dan tidak menghilangkan rasa asli dari makanan tersebut. Tentunya inovasi tersebut dapat membuat produk UKM kususnya di bidang F&B, bisa mempertahankan kualitas dan rasanya. Sehingga inovasi kemasan tersebut banyak membantu UMKM dalam bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

“Ini merupakan tonggak sejarah baru. Kopitu sebagai organisasi UMKM pertama yang bisa bekerja sama dengan BRIN. Kerja sama ini merupakan bentuk komitmen Kopitu dalam menjalankan visi misi memajukan UMKM naik kelas & go global dengan harapan UMKM Indonesia kususnya anggota Kopitu dapat berinovasi dan bersaing dengan lebih luas,” ungkap Yoyok.

Yoyok berharap MoU yang dilakukan ini tidak sebatas seremonial, melainkan secepatnya bisa diemplematifkan. “Sebagai contoh Kopitu mendorong olahan singkong eksport ke Jepang. Produk singkong Indonesia sudah melalui test laboratorium Surveyor Indonesia dengan zero sianida, tetapi begitu sampai di Jepang dan diperiksa laboratorium Jepang, ternyata masih ada kandungan sianidanya. Maka kini diperlukan dukungan aspek penelitian dari BRIN untuk teknologi inovatif dalam mengatasi asam sianida,” ujar Yoyok Pitoyo.

Sementara Hendrian selaku Plt Deputi Pemanfaatan Riset & Inovasi BRIN berharap dengan adanya kerja sama ini dan dengan mulai membaiknya kondisi ekonomi serta ekspor, tentunya UMKM bisa bersinergi dalam berinovasi dan menciptakan ide-ide untuk meningkatkan taraf kualitas dan produksi UMKM, serta lebih terbukanya pasar yang lebih luas.

“Kami sangat mendukung langkah yang dilakukan Kopitu dan kami siap menindaklanjuti melalui PKS pada poin-poin yang sudah dikerjasamakan,” ujar Hendrian.

MoU ini merupakan langkah awal dan akan ditindaklanjuti dalam bentuk perjanjian kerja sama sebagai bentuk komitmen antara Kopitu dan BRIN serta melakukan eksekusi program-program yang direncanakan dan per semester akan selalu diadakan monev, katanya.  (LE-NA)

Lenteraesai.id